Dapatkah Investasi Menjadi Pendorong Ekonomi Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Economics - Ekonomi Sebelumnya
Senin, 09 Juli 2007
(Umar Juoro) Perkembangan Ekonomi Triwulan I/05. Data yang dipublikasikan oleh BPS menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I/2005 mengalami pertumbuhan sebesar 6,35% (y-o-y). tingkat pertumbuhan ini jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan banyak pihak. Dari sisi pengeluaran, sumbangan investasi menunjukan pertumbuhan yang tinggi sekitar 15%.

Sedangkan konsumsi rumah tangga hanya tumbuh sebesar 3,2% dan konsumsi pemerintah menurun -8,5%. Ekspor netto (pertumbuhan ekspor dikurangi pertumbuhan impor) adalah sekitar -3%. Keadaan ini memperlihatkan bahwa kegiatan investasi mulai menggantikan konsumsi masyarakat sebagai penggerak perekonomian.

Namun jika melihat data pertumbuhan pertriwulannya (q-to-q), keadaaanya kurang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi hanya 2,8%, sedangkan pertumbuhan investasi hanya sebesar 0,12% konsumsi rumah tangga -0,1% dan konsumsi pemerintah menurun sekitar -24%. Keadaan ini sejalan dengan penurunan yang cukup signifikan dari Indeks Kepercayaan Bisnis dan Indeks Kepercayaan Konsumen yang keduanya berada di bawah angka 100 yang berarti sikap yang pesimis dari kalangan bisnis dan konsumen. Keadaan ini juga sejalan dengan melemahnya stabilitas ekonomi makro sebagaimana terlihat dari melemahnya rupiah menjadi sekitar Rp. 9500 per dollar, meningkatnya inflasi menjadi 8,1% (y-o-y) yang diatasi oleh BI dengan meningkatnya SBI 1 bulan menjadi 7,87%.

Data q-to-q juga menunjukan pertumbuhan ekspor yang rendah 0,1% dan impor yang menurun -0,5%. Keadaan ini mengkhwatirkan karena penurunan impor berarti akan melemahkan perkembangan investasi yang baru di mulai, yang sangat bergantung pada impor barang modal dan bahan mentah.

Melihat perkembangan ekonomi dalam Triwulan I/2005, di satu pihak menunjukan adanya optimisme meningkatnya investasi yang menggantikan konsumsi masyarakat sebagai penggerak utama perekonomian, namun di lain pihak adanya kekhwatiran karena perkembangan ini tidak bersifat berkesinambungan (suistainable) sebagaimana diperlihatkan perkembangan per triwulannya (q-to-q) dan menurunnya indeks kepercayaan bisnis dan konsumen. Pertumbuhan yang tinggi dilihat secara y-o-y tentu saja berkaitan dengan rendahnya investasi pada triwulan I/04. perkembangan investasi mulai terlihat meningkatnya secara berarti pada triwulan IV/04. dilihat dari kesempatan investasi, terutama PMA, kecenderungannya memang meningkat pesat, namun belum tentu dalam realisasinya.

Perkembangan investasi sejalan dengan impor yang relatif tinggi (paling tidak menurut data y-o-y) di satu pihak menunjukan perkembangan ekonomi yang meningkat, namun di lain pihak juga menimbulkan permasalahan dalam stabilitas makro. Investasi pada umumnya bersifat kebutuhan dalam negeri bukan untuk ekspor, seperti kendaraan bermotor, apartemen dan perumahan. Karena itu kebutuhan terhadap dollar meningkat, sementara penerimaan terhadap dollar tidak mengalami peningkatan yang tinggi. Akibatnya adalah pelemahan dalam nilai rupiah. Relatif menurunnya cadangan devisa, walaupun dalam tingkatan yang kecil, menunjukan bahwa aliran modal ke dalam negeri dalam bentuk dollar atau mata uang asing kuat lainnya belumlah tinggi. Dari pertumbuhan netto ekspor yang begatif juga menunjukan bahwa pemasukan ekspor belum menambah penerimaan devisa yang besar. Keadaan ini berbeda dengan keadaan di negara tetangga yang sebelumnya juga mengalami krisis yang cadangan devisanya meningkat dengan pesat, terutama Korea yang sudah mencapai lebih dari $ 100 miliar.

Melemahnya Stabilitas Makro

Setelah kurang lebih dua tahun stabilitas ekonomi makro relatif terjaga baik, kembali kita dighadapkan dengan pelemahan dalam indikator nilai tukar rupiah dan inflasi. Meningkatnya permintaan dollar, baik dari pertamina atau mengimpor minyak dan BBM yang harganya meningkat maupun perusahaan lainnya, sementara aliran dollar belum meningkat secara berarti menyebabkan pelemahan dalam nilai rupiah. Hampir dapat dipastikan sasaran pemerintah untuk membuat nilai rupiah sebesar Rp. 8900 dollar tidak akan tercapai. Kemungkinan nilai rupiah akan berkisar antara Rp. 9500-9700 perdollarnya.

Sementara itu tingkat inflasi sekalipun kecenderungannya menurun dibandingkan dengan bulan Maret 2005, namun sampai dengan akhir tahun tingkat inflasi akan lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 7% yaitu mencapai sekitar 7,5-8%. Perkembangan melemahnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya inflasi akan membuat BI akan kembali menyesuaikan tingkat SBI, sekarang ini sebesar 7,87%, menjadi sekitar 8-8,5% pada akhir tahun.

Dilihat secara sektoral, pada umumnya sektor-sektor ekonomi mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, kecuali sector pertambangan (termasuk minyak dan gas), yang sangat mengecewakan dengan pertumbuhan negatif, padahal harga minyak dan komoditas pertambangan sedang tinggi-tingginya. Sayang sekali Indonesia kehilangan kesempatan baik ini dalam dua tahun terakhir yang akibatnya bukan saja kehilangan kesempatan untuk mendapatkan devisa yng besar, tetapi juga mengalami tekanan pengeluran subsidi BBM yang sangat besar. Perkembangan yang mengejutkan adalah tingginya pertumbuhan sektor pertanian karena keberhasilan panen.

Perkembangan sampai dengan akhir tahun kemungkinan sektor konstruksi pertumbuhan masih tinggi, dan manufaktur pertumbuhannya moderat. Sedangkan pertumbuhan sektor perhubungan kecenderungan nya semakin menurun karena peningkatan harga BBM, walaupun kegiatan telekomunikasi masih tinggi. Sektor pertanian akan tidak lagi tumbuh begitu tinggi, bahkan cenderung menurun. Karena itu secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005 akan berkisar pada tingkatan 5,5%.

Investasi sebagai Penggerak Perekonomian

Seberapa jauh kita dapat mengharapkan investasi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi? Melihat dari perkembangan ekonomi sejauh ini memang kita tidak lagi dapat menharapkan pertumbuhan dari konsumsi rumah tangga untuk tumbuh tinggi. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga sulit untuk melebihi tingkat 3,5% (y-o-y). karena itu mau tidak mau investasi harus menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.namun jika investasi yang berkembang adalah hanya produk untuk pasar domestik sementara kebutuhan impornya tinggi, yang terjadi adalah tekanan pada neraca pembayaran yang meningkat sebagaimana terlihat pada melemahnya nilai rupiah.

Karena itu kebijaksanaan investasi semestinya diarahkan pada kegiatan yang berorientasi ekspor sehingga tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi juga menambah devisa sehingga memperkuat nilai rupiah. Kegiatan investasi yang seharusnya difasilitasi adalah pada sektor pertambangan dan migas, apalagi harga produknya masih tinggi di pasar internasional. Sayangnya pemerintah tidak memberikan intensif yang menarik dan permasalhan lama seperti kontrak, kepastian hukum, dan pemerintah daerah tidak dipecahkan secara berarti. Sekalipun demikian pertumbuhan ekspor migas dan pertambangan masih tinggi, bukan karena volumenya tetapi karena harganya.

Kontraktor migas masih mengeluhkan pengenaan PPN pada kegiatan eksplorasi dan produksi. Pemerintah telah menjanjikan penghapusan PPN dan bea masuk pada impor barang modal. Sedangkan PPN untuk ekspolari dan produksi ketentuannya dimuat dalam UU No. 22/2001, sehingga perlu amademen. Kontrak Production Sharing (KPS) juga harus dirubah untuk lebih menarik investor katakan sampai dengan pada tingkatan 65:35. perlu pula dipertimbangkan agar kontrak atas nama pemerintah Indonesia dikembalikan ke Pertamina, bukan oleh BP Migas untuk membuat proses bisnis lebih lancar dan pertamina dapat menjadi perusahaan yang kuat. Begitu pula Kontrak Karya untuk pertambangan dibuat untuk lebih menarik investor dan tidak dirubah menjadi lisensi yang akan rumit dengan permasalahan birokrasi. Tentu saja permasalahan dengan pemerintah daerah harus diupayakan untuk dapat ditangani dengan bantuan pemerintah pusat.

Peningkatan investasi yang tidak saja mendatangkan devisa tetapi juga kesempatan kerja yang luas adalah dalam industri manufaktur padat karya. Sayang sekali perkembangan industri tekstil dan garmen, alas kaki, dan elektronika seakan-akan diterbengkalaikan oleh pemerintah dan dijauhi oleh perbankan. Tentu saja persaingan semakin ketat oleh produk Cina dan Vietnam, namun Indonesia masih mempunyai peluang tertentu untuk mendapatkan bagian yang signifikan dari pasar ekspor, karena negara importir tidak bergantung sepenuhnya pada Cina. Sedangkan berkaitan dengan permasalahan tenaga kerja semestinya juga pemerintah dapat memperbaikinya, misalnya dengan mengarahkan penetapan upah merupakan negosiasi antara pekerja dan manajeman, tidak harus diteteapkan pemerintah. Begitu pula perjanjian kerja dapat dibuat lebih fleksibel agar perusahaan dapat mengatasi pemasaran dengan lebih baik.

Pemerintah juga dapat memberikan intensif pada industri kayu padat karya yang berorientasi ekspor agar dapat melakukan konsolidasi baik dalam aspek keuangan, pemasaran, maupun teknologi. Intensif pajak merupakan salahsatunya yang dapt membantu industri padat karya berorientasi ekspor dapat memperbaiki keadaan keuangannya sehingga menarik bagi perbankan untuk menyalurkan kredit.

Perkembangan perbankan masih menunjukan kecenderungan positif, dengan sebagian besar bank papan atas mencatatkan pertumbuhan laba pada Triwulan I/05. bank juga semakin aktif menyalurkan kredit, sekalipun masih didominasi oleh kredit konsumsi. Bank pada umumnya masih berhati-hati dalam menyalurkan kredit koorprrasi terutama untuk jenis investasi. Kasus yang menyangkut Bank Mandiri belakangan ini membuat bank semakin hati-hati dalam hal ini. Padahal dalam negeri sangat bergantung pada perbankan.

Menjebatani perbankan dan sektor riil terutama dalam peningkatan investasi tidaklah mudah dalam prakteknya. Karena di satu pihak bank sangat hati2x dengan resiko yang tinggi pada kredit investasi, sementara itu perusahaan di sektor riil pada umumnya keadaan keuangannya sebagaimana diperlihatkan olek ekuitas dan aliran kas (cash flow) nya masih jauh dari menarik untuk perbankan. Konsolidasi keuangan di sektor rill akan mendekatkan perbankan untuk membiayai tidak saja modal kerja tetapi juga investasi. Kecenderungan meningkatnya SBI juga dapat mengancam peningkatan bunga perbankan. Bunga deposito sudah disesuaikan, tetapi bunga kredit masih bertahan. Karena itu BI harus berhati-hati dan secara perlahan menyesuaikan tingkat SBI dengan kecenderungan inflasi agar tidak menghambat penyeluran kredit perbankan, terutama untuk kegiatatan investasu. (Penulis adalah Ketua Dewan Direktur CIDES)

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net


Bookmarks (49) 0 Buka: 2290

Komentar
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.2

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >