|
(Umar Juoro, Ketua Dewan Direktur CIDES). Keraguan dan keterlambatan dalam bertindak, baik otoritas fiskal maupun moneter dalam menangani kejutan (shock) eksternal kenaikan harga minyak dunia menyebabkan rupiah terjerambab sampai pernah menyentuh angka Rp. 11.300 per dolar dan IHSG terpelanting ke indeks di bawah 1.000. menyikapi pelemahan rupiah yang cukup drastis, BI akhirnya bersedia menaikan BI rate menjadi 9,5%. Selanjutnya kemungkinan pemerintah menaikan harga BBM untuk mengurangi tekanan pada anggaran dan membuat kebijaksanaan sejalan dengan ekspektasi pelaku ekonomi.
Sekalipun BI telah menaikan suku bunga, jika subsidi BBM tidak diturunkan, kemungkinan rupiah akan melemah lagi, karena pelaku ekonomi menganggap pemerintah tidak realistis dalam menjalankan kebijaksanaan ekonomi. Jadi, memang tantangannya berat untuk mengatasi permasalahan ini. Di sini diuji kepemimpinan tidak saja di bidang ekonomi, tetapi juga implikasi sosial politiknya. Keraguan dan keterlambatan tersebut bersumber pada pandangan bahwa menaikan suku bunga akan menekan kegiatan ekonomi yang sedang mulai bangkit. Karena itu, BI enggan untuk menaikan suku bunga yang cukup tinggi untuk menarik rupiah dari peredaran dan tidak di tukarkan dengan dolar. Kebijaksanaan menaikan suku bunga tenti saja meningkatkan beban dunia usaha yang sudah sangat berat dengan kenaikan BBM industri. Namun, dunia usaha akan semakin terpuruk jika stabilitas ekonomi tidak dikembalikan yang antara lain harus menaikan suku bunga, paling tidak untuk sementara sampai keadaan stabil lagi. BI telah melakukan langkahnya dengan menaikan suku bunga. Sekarang, giliran pemerintah untuk mengatasi pemasalahan subsidi BBM, yang pilihanya harus menyesuaikan harga BBM, dan menjalankan program kompensasi dengan lebih cepat dan efektif, serta menciptakan lingkungan investasi yang kondusif terutama untuk investasi yang mendatangkan devisa. Begitu pula menaikan harga BBM merupakan pilihan yang sangat sulit dan tidak populer. Kenaikan harga BBM tidak saja akan meningkatkan inflasi, tetapi juga menurunkan taraf hidup masyarakat, apalagi alokasi dana kompensasi belum berjalan dengan baik. Namun, subsidi BBM yang terlalu besar tidak saja sulit mendapatkan dana untuk membiayai, tanggapan pelaku ekonomi, terutama sektor finansial juga memandangnya sebagai kredibilitas kebijaksanaan pemerintah menurun. Menaikan suku bunga dan kemungkinan menaikan harga BBM tentu belum memadai untuk menjawab permasalahan yang kita hadapi. Apalagi kemungkinan harga minyak dunia masih akan tetap tinggi. Tetapi paling tidak, kebijaksanaan tersebut merupakan kebijaksanaan yang rasional dan sejalan dengan ekspektasi pelaku kegiatan ekonomi. Tentu saja dibutuhkan kebijaksanaan-kebijaksanaan lanjutan untuk membuat perekonomian dapat menyesuaikan diri dengan dinamika perkembangan ekonomi global. Permasalahannya perekonomian kita sudah demikian terbuka sehi sangat berpengaruh pada perekonomian kita. Langkah untuk mengurangi keterbukaan ekonomi dalam pelaksanaannya akan sangat sulit. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini. Kita patut menyayangkan, mengapa sudah hampir satu tahun pemerintahan ini berjalan, program-program dasar dan penting belum juga berjalan dengan optimal. Sudah diketahui sejak awal bahwa harga BBM harus dinaikan karena membengkaknya subsidi. Namun, program kompensasi terlambat dan tidak berjalan dengan baik. Akibatnya pada saat harga BBM dinaikan, masyarakat terutama golongan bawah tidak mendapatkan bantuan untuk paling tidak meringankan beban kehidupan yang semakin berat. Kita juga sangat menyayangkan, mengapa sebagai produsen minyak, gas dan hasil pertambangan kita tidak dapat memanfaatkan peluang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari kenaikan harga yang demikian tinggi. Malahan kita menjadi terbebani sangat berat dengan kondisi ini. Jika saja pemerintah dapat segera memperbaiki iklim investasi di sektor ini, dan memberikan insentif yang memadai, keuntungan yang kita peroleh menjadi besar sehingga pilihan menjadi lebih terbuka untuk melakukan tindakan yang tidak terlalu membebani masyarakat. Pada saat situasi memburuk seperti ini, terjadi saling lempar tanggung jawab. BI menyatakan permasalahan ada di pemerintah, demikian pula sebaliknya pemerintah. Sementara di dlam pemerintahan sendiri juga salaing menyalahkan diantara menteri ekonomi, dan bahkan perbedaan yang tajam antara Presiden dan Wakil Presiden khususnya mengenai kenaikan harga BBM. Keadaan ini menurunkan kewibawaan otoritas moneter dan fiskal sendiri, dan perkembangan ekonomi menjadi tanpa arah. Karena itu, tidak mengherankan dalam beberapa hari ini perkembangan nilai rupiah dan pasar modal menjadi kacau. Kebijaksanaan ekonomi haruslah dijalankan dalam kerangka keterkaitan, dan mereka yang bertanggung jawab haruslah salaing mendukung dalam satu kesatuan, bukan salaing menyalahkan. Saat ini tidak ada pilihan kebijaksanaan yang konsekuensinya ringan, tetapi pilihan yang ada sama beratnya. Namun pemerintah dan BI harus bersikap tegas dan bertindak, tidak sekedar menghimbau. Jika otoritas tidak melakukan tindakan, pelaku ekonomi dan masyarakat sendiri yang akan melakukan tindakan untuk menyelamatkan diri sendiri yang akibatnya sangat buruk bagi perekonomian nasional. Tantangan ke depan semakin berat. Tidak saja kemungkinan harga minyak masih tinggi, tetapi fundamental ekonomi domestik juga harus diperbaiki. Sekedar mengejar pertumbuhan dengan investasi yang menguras devisa tidak akan membantu perekonomian, tetapi membuat perekonomian semakin labil terhadap kemungkinan adanya kejutan lagi. Karena itu, fokus sebaiknya pada investasi yang juga mendatangkan devisa terutama dimana kita unggul, yaitu berbasis sumber daya alam. Seiring dengan itu, program sosial untuk mengurangi beban masyarakat bawah harus dilakukan secara bersamaan. Program-program yang bersifat padat karya juga dikembangkan sebelum perekonomian swasta dapat menciptakan kesempatan kerja yang luas. Selanjutnya perhatian dapat diberikan pada pengembangan kegiatan lain seperti industri manufaktur dan infrastuktur untuk lebih kompetitif. Dengan ketegasan dalam tindakan, tim ekonomi yang kompak dan andal serta fokus pada pengembangan sektor yang tetap pada saat ini, maka Indonesia tidak saja akan dapat mengurangi badai kenaikan harga minyak dunia, tetapi justru akan mendapatkan keuntungan perkembangan situasi. Artikel pernah dimuat dalam Opini Harian Umum Seputar Indoneisa, 05/09/2005
Bookmarks (58) 0 Buka: 12883
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.2 |