Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Sabtu, 31 Mei 2008

Ikhtiar Menemukan Spirit Islam dalam Sejarah Bangsa

Di tengah gempita peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, mengemuka gugatan terhadap peran dan posisi Boedi Oetomo. Sebagian menilai, kelahiran organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 lalu sesungguhnya amat tidak patut diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen). Lebih jauh mereka menilai, dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam. Sarekat Islam (SI) yang lahir 3 tahun terlebih dahulu dari Boedi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, lebih tepat dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena itu, sejarah kebangkitan nasional yang selama ini mendasarkan pada peran Boedi Oetomo harus dipertanyakan kembali.

Sebuah tesis sejarah yang ditulis Savitri Scherer di Universitas Cornell, Amerika Serikat pada tahun 1975 yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa indonesia tahun 1985, menggambarkan bahwa Boedi Oetomo pada intinya merupakan gerakan sosial yang mengartikulasikan kepentingan kelompok priyayi non birokrat yang bersifat lokal. Ini karena adanya disharmoni antara priyayi ningrat (priyayi birokrat) dengan priyayi profesional, khususnya para dokter Jawa. Dalam konteks ini, Schrerer mengungkapkan bahwa priyayi-priyayi Jawa, terutama priyayi birokratis menerima pejabat-pejabat kesehatan dengan rasa permusuhan. Achmad Jayadiningrat, regent Serang mengungkapkan, “…dokter-dokter itu diperlakukan seolah-olah mereka adalah mantri irigasi…” Ia juga mengakui betapa buruknya ia memperlakukan seorang dokter yang datang ke rumahnya untuk menolong istrinya yang sedang sakit (Savitri Prasisiti Scherer, “Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-pemikiran priyayi nasionalis jawa abad XX”, Terjemahan Jiman S. Rumbo, Jakarta: Sinar Harapan, 1985 hlm 46).

Atas hlm itu, kemunculan Boedi Oetomo sebenarnya lebih didorong oleh keinginan untuk menolong diri sendiri yang berada dalam posisi rendah dibanding priyayi birokratis. “…Kalau kita tidak menolong diri kita sendiri tidak akan ada orang lain yang menolong kita, dan tolonglah diri kalian sendiri,” demikian Gunawan Mangunkusumo tentang alasan mahasiswa STOVIA mendirikan Boedi Oetomo (Paul W van der veur, ed., Kenang-kenangan Dokter Soetomo, Jakarta: Sinar Harapan, 1984 hlm 22). Dalam konteks yang sama, Scherer mengungkapkan bahwa aspirasi utama perjuangan Boedi Oetomo ialah keserasian di kalangan masyarakat Jawa (Scherer, op.cit. hlm 53). Sewaktu Soewarno diangkat menjadi sekretaris Boedi Oetomo cabang Batavia yang mewakili mahasiswa STOVIA, ia mengeluarkan edaran yang menjelaskan maksud dan tujuan berdirinya Boedi Oetomo. Edaran itu mengemukakan bahwa Boedi Oetomo akan menjadi perintis terciptanya Persatuan Jawa Umum (Algemeene Javaansche Bond).

Gambaran diatas menunjukkan bahwa Boedi Oetomo merupakan organisai lokal, dan hanya berjuang untuk kelompok kecil, tidak berskala nasional, sehingga sulit untuk dianggap sebagai perintis kebangkitan nasional. Memang di kalangan tokoh-tokoh Boedi Oetomo terdapat pemikiran yang menghendaki agar Boedi Oetomo tidak hanya memperjuangkan nasib priyayi Jawa, tetapi berjuang untuk perbaikan bagi seluruh warga Hindia Belanda, khususnya perbaikan bidang pendidikan. Soewarno misalnya, menghendaki agar Boedi Oetomo mempelajari segala cara bagi tercapainya pembangunan negeri dan rakyat Hindia Belanda yang serasi. Ia menginginkan agar Boedi Oetomo berkembang menjadi persaudaraan nasional tanpa perbedaan ras dan kepercayaan.

Sejalan dengan Soewarno, tokoh-tokoh muda Boedi Oetomo seperti dr Soetomo dan dr Tjipto Mangunkusumo menghendaki cakupan perjuangan Boedi Oetomo yang meliputi seluruh wilayah Nusantara. Perbedaan ini mengakibatkan terjadinya perdebatan antara kelompok tua dan muda, seperti tampak dalam Kongres Pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta, 3-5 Oktober 1908. Dr Wahidin Sudirohusodo membuka kongres itu dengan pidato yang mengagungkan sejarah Jawa dan menekankan pentingnya pendidikan Barat bagi kemajuan Jawa, khususnya bagi priyayi Jawa, bukan pendidikan bagi rakyat desa secara umum. Pandangan Wahidin mendapat dukungan dari dr Radjiman yang pada waktu itu menjadi penasehat kesehatan di Istana Surakarta. Radjiman mengemukakan bahwa pengetahuan ilmiah Barat bukan tidak perlu bagi rakyat umum, melainkan sukar dimengerti oleh orang Jawa non priyayi.

Namun demikian usulan-usulan tokoh-tokoh muda Boedi Oetomo itu tidak menyebabkan Boedi Oetomo berubah menjadi gerakan bersifat nasional. Boedi Oetomo tetap menjadi perkumpulan sempit, hanya berjuang untuk kepentingan priyayi non-birokrat. Scherer mengemukakan bahwa usulan Tjipto lenyap dalam perdebatan yang panas setelah ia selesai berbicara. Scherer lebih lanjut mengemukakan bahwa tidak satu pun usul-usul yang dikemukakan kelompok muda STOVIA itu tertera dalam konsep akhir dari resolusi-resolusi kongres Boedi Oetomo. Tegasnya, kongres Boedi Oetomo menolah usulan dr Tjipto (sebagai juru bicara kelompok muda) untuk menjadikan Boedi Oetomo sebagai organisasi politik dan memperluas keanggotaannya yang mencakup seluruh penduduk Hindia Belanda. Sejalan dengan itu, dalam pasal 2 anggaran dasar Boedi Oetomo tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis”. Jadi, jelas sekali bahwa tujuan Boedi Oetomo bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan (Rizki Ridyasmara, “20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional”, dalam http://www.eramuslim.com). Karena kekecewaan terhadap Boedi Oetomo yang berpikir sempit dan hanya bergerak untuk kepentingan priyayi Jawa, dokter Tjipto mengundurkan diri yang kemudian bergabung dengan Sarekat Islam.

Atas hlm demikian, banyak pengamat sejarah yang menolak peran Boedi Oetomo sebagai gerakan pelopor kebangkitan nasional. Pelaku dan penulis sejarah, KH Firdaus AN mengungkapkan “…Boedi Oetomo adalah organsasi sempit, lokal dan etnis, dimana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya” selanjutnya Firdaus AN mengungkapkan, perkumpulan Boedi Oetomo dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Boedi Utama pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.

Selain itu, Firdaus AN memaparkan bahwa dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri” papar KH. Firdaus AN. Karena itu, lanjut Firdaus, Boedi Oetomo tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekaan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia, dan Boedi Oetomo tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.

Mengenai hubungan Boedi Oetomo dengan Islam, KH Firdaus AN mengungapkan adanya indikasi kebencian terhadap Islam di kalangan tokoh-tokoh Boedi Oetomo. Noto Soeroto, salah seorang tokoh Boedi Oetomo, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereninging berkata: “Agama islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya…sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.”

Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik Boedi Oetomo di bawah asuhan Dr Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938). Bukan itu saja, dibelakang kelompok Boedi Oetomo pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama Boedi Oetomo yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895. Sekretaris Boedi Oetomo (1916), Boedihardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boedihardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Dr Th Stevens) - sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.

Berbeda dengan Boedi Oetomo yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura, dan hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, seingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura, Sarekat Islam lebih menasional. Keanggotaan Sarekat Islam terbuka bagi semua rakyat Indonesia. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku. Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumater Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Sifat menasional Sarekat Islam juga tampak dari penyebarannya yang menyentuh hingga kepelosok-pelosok desa. Tahun 1916, tercatat 181 cabang SI di seluruh Indonesia dengan tak kurang dari 700.000 orang tercatat sebagai anggotanya. Tahun 1919 melonjak drastis hingga mencapai 2 juta orang. Sebuah angka yang fantastis kala itu. Sedang Boedi Oetomo pada masa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang.

Adanya faktor Islam inilah yang membuat Sarekat Islam lebih progresif, tidak terbatas pada kelompok tertentu, dan menginginkan adanya kemajuan bagi seluruh rakyat. Salah satu misi pembentukan Sarekat Islam, seperti dirumuskan oleh Tirtoadisuryo ialah:

“Tiap-tiap orang mengetahuilah bahwa masa yang sekarang ini dianggap zaman kemajuan. Haruslah sekarang kita berhaluan: janganlah hendaknya mencari kemajuan itu cuma dengan suara saja. Bagi kita kaum muslimin adalah dipikulkan wajib juga akan turut mencapai tujuan itu, dan oleh karena itu, maka telah kita tetapkanlah mendirikan perhimpunan Sarekat Islam” (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3JS, 1982. Hal 116)

Berdasarkan alasan tersebut, tampak adanya sikap kepeloporan perubahan dan perbaikan bagi seluruh warga negara yang lebih merakyat yang didorong atas keyakinan Islam. Cakupan kegiatan Sarekat Islam yang meliputi seluruh rakyat Indonesia juga tampak dalam tujuan organisasi tersebut yang termaktub dalam anggaran dasarnya: “Akan berikhtiar, supaya anggota-anggotanya satu sama lain bergaul seperti saudara, dan supaya timbullah kerukunan dan tolong menolong satu sama lain antara sekalain kaum muslimin, dan lagi dengan segala upaya yang halal dan tidak menyalahi wet-wet negeri (Surakarta) dan wet-wet Gourvernement, …berikhtiar mengangkat derajat rakyat agar menimbulkan kemakmuran, kesejahteraan dan kebesarannya negeri”.

Organisasi ini berkembang dengan cepat di daerah-daerah lain di Jawa, bahkan organisasi ini menyebar juga ke luar Jawa, seperti di Sumatera Selatan. Tapi keberadaannya dirasakan kurang nyaman oleh penguasa Keresidenan Surakarta, terutama karena adanya tuduhan, bahwa keberadaan Sarekat Islam menimbulkan konflik dengan pedagang-pedagang Cina. Akhirnya Residen Solo membekukan Sarekat Islam. Kemudian pembekuan tadi dicabut kembali dengan syarat adanya perubahan anggaran dasar, sehingga ia hanya terbatas pada daerah Surakarta saja. Namun demikian, sekalipun bersifat lokal secara administratif, tetapi cabang-cabang SI tetap berkembang dengan anggaran dasar masing-masing.

Jelas tampak adanya perbedaan mendasar antara Boedi Oetomo yang hanya berjuang untuk kelompok kecil priyayi di Jawa dengan Sarekat Islam yang berjuang untuk seluruh rakyat. Dengan menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan, tampak pula bahwa SI sesungguhnya merupakan pelopor yang sebenarnya dari sebuah kebangkitan yang bersifat nasional. Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan Boedi Oetomo dengan Sarekat Islam ditinjau dari berbagai aspeknya dapat dilihat ada tabel di bawah ini.

No

Aspek yang Dibandingkan

Boedi Oetomo

Sarekat Dagang Islam/Sarekat Islam

1

Tujuan

Menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar Boedi Oetomo Pasal 2)

Islam Raya dan Indonesia Raya

2

Sifat

Bersifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura

Bersifat Nasional untuk seluruh bangsa Indonesia

3

Bahasa

Berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam Bahasa Belanda

Berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia

4

Sikap terhadap Belanda

Menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah

Bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan

kolonial Belanda

5

Sikap Terhadap Agama

Bersikap anti islam dan anti Arab (dibenarkan oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr Radjiman)

Membela islam dan memperjuangkan keberannya

6

Perjuangan Kemerdekaan

Tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bubar 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsam ini melewati pintu gerbang kemerdekaan

Sarekat Islam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan

7

Korban Perjuangan

Anggota Boedi Oetomo tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul

Anggota Sarekat Islam banyak masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, atau dibuang ke Digul, Irian Barat

8

Kerakyatan

Boedi Oetomo bersifat feodal dan keningratan

Sarekat Islam bersifat kerakyatan dan kebangsaan

9

Hubungan dengan Penjajah

Boedi Oetomo menurutkan kemauan penjajah

Sarekat Islam melawan penjajahan

Dengan membandingkan Boedi Oetomo dengan Sarekat Islam, maka sewajarnya gerakan seperti Sarekat Islam inilah yang dijadikan sebagai pelopor kebangkitan nasional. Tapi mengapa justru sejarah menempatkan Boedi Oetomo sebagai pelopor? Dari sini terlihat kecenderungan adanya usaha peminggiran Islam atau bahkan menghilangkan peran Islam dalam sejarah Indonesia. Semestinya sejarah mencatat berdirinya Sarekat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905 yang kemudian menjelma menjadi Sarekat Islam pada tahun 1912 merupakan pelopor kebangkitan nasional.

Umat Islam sejatinya memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan dalam menumbuhkan kebangkitan nasional. Peperangan yang terjadi pada abad ke-19 melawan Belanda selalu bernafaskan “jihad” melawan para penjajah. Misalnya sewaktu Pangeran Diponegoro memanggil sukarelawan, maka kebanyak mereka yang tergugah adalah para ulama dan ustadz dari pelosok desa. Pemberontakan petani menentang penindasan yang berlangsung terus-menerus sepanjang abad ke-19 selalu dibawah bendera Islam. Demikian pula perlawanan yang dilakukan oleh Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar dan diterus kan oleh Cut Nyak Dien dari tahun 1873-1906 adalah jihad melawan kape-kape Belanda yang menyengsarakan umat Islam. Begitu juga dengan perang Padri. Sebutan Padri menggambarkan bahwa perang ini merupakan perang keagaaman.

Namun ketika pertama kali dilakukan peringatan hari Kebangkitan Nasional pada tahun 1948, maka peringatan itu mengambil momentum kelahiran Boedi Oetomo yang dianggap sebagai pelopor kebangkitan nasional, sehingga peringatan Kebangkitan Nasional selalu jatuh pada tanggal 20 Mei. Ini jelas sekali merupakan suatu usaha menghilangkan spirit Islam dari perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Juga menghilangkan identitas Islam sebagai bagiaan terintegruasi dari bangsa Indonesia.

Sejarah memang adalah realitas tangan ke dua (second-hand reality). Sebagai realitas tangan kedua, sejarah sangat tergantung siapa yang merumuskan atau menuliskan dan atas dasar kepentingan apa sejarah itu ditulis. Karena itu, sejarah sesungguhnya sangat bergantung pada lingkup politik yang dominan saat sejarah itu ditulis. Tentu bukan sebuah kebetulan belaka ketika sejarah Kebangkitan Nasional didasarkan pada kelahiran Boedi Oetomo yang sejatinya tidaklah tepat untuk dijadikan tonggak sejarah penting itu, bukan Sarekat Islam – sebagaimana juga Hari Pendidikan Nasional bukan didasarkan pada kelahiran Muhammadiyah dengan sekolah pertama yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan. Sebab, bila itu dilakukan maka yang akan tersembul adalah spirit atau semangat Islam. Dalam setting politik penguasa saat sejarah ditulis, itu tidak dikehendaki.

Oleh karena itu, kinilah saatnya membaca ulang sejarah kebangkitan nasional, pendidikan nasional dan sejarah nasional lainnya secara kritis dan obyektif. Sejarah dalam istilah al qur’an sebagaimana kisah, ia mengandung ibrah atau pelajaran. Penyimpangan atau penutupan sejarah dari fakta yang sebenarnya tentu akan menutupi ibrah yang mestinya didapat. Itulah spirit Islam dalam perjuangan negeri ini.

100 tahun Kebangkitan Nasional baru lalu diperingati dengan spektakuler di Gelora Bung Karno. Semestinya, acara seremonial seperti itu diiringi juga dengan kesadaran akan arti kebangkitan yang hakiki. Bahwa kebangkitan hakiki bukanlah kebangkitan harga sembako, kebangkitan harga BBM, kebangkitan jumlah kemiskinan dan angka jumlah putus sekolah.

Kebangkitan hakiki adalah kembalinya kesadaran akan hakikat hidup manusia di dunia sebagai abdullah dan khalifatullah dengan misi untuk menyembah Sang Khaliq dan memakmurkan bumi dengan menjalankan segala titahNya. Jadi, kebangkitan bukan hanya sebuah kata untuk seremonial belaka, tetapi kebangkitan adalah suatu kata yang menginisiasi perjuangan untuk sebuah perubahan dalam seluruh aspek kehidupan bangsa dari penjajahan ideologi-idelogi asing yang menyengsarakan rakyat menuju yang memberikan rahmat bagi semua. Itulah kebangkitan dengan spirit Islam yang diajarkan oleh Cokroaminoto dan Sarekat Islam, yang kini sedang diikhtiarkan untuk muncul kembali karena spirit itulah yang diperlukan sebagai sumber kekuatan perjuangan guna membawa negeri ini ke arah yang lebih baik di bawah ridho ilahi.

Wallahu’alam bi al-shawab
Bookmarks (28) 0 Buka: 865

Komentar (1)
RSS comments
1. 19-06-2008 20:47
 
Menarik
Artikel ini saya pikir sangat menarik dan membuka wawasan. Tetapi kemudian menimbulkan pertanyaan dibenak saya, mengapa pemerintah lebih memilih Boedi Utomo? Bila memang organisasi tersebut tidak berjasa dan sangat sempit lingkupnya, apa yang menyebabkan Boedi Utomo bisa begitu dikenal dan diakui keberadaanya (melebihi Sarekat Islam)?Lebih jauh lagi, mungkinkah ada kepentingan suatu kelompok dibalik pemilihan Boedi Utomo dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional?  
 
Saya rasa masalah peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini sangat perlu untuk dikaji dan dipublikasikan. Masyarakat pada umumnya seharusnya lebih mengerti akan hal ini karena menyangkut jati diri bangsa dan masyrakat yang terbentuk itu sendiri.  
 
Akhir kata, terimakasih atas artikelnya.  
Wassalam, 
 
R.IDRIS MUSA, SIP.MIR.
IP: 202.7.176.139
Tamu
 
Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.2

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >