Kebangkitan Nasionalisme Indonesia: Suatu Refleksi Sejarah Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Kamis, 22 Mei 2008
Sejarah memberikan pola-pola ulangan (recurrent paterns) mengenai peristiwa-peristiwa penting yang dialami suatu bangsa di masa lalu. Dengan pola-pola ulangan itu memungkinkan kita mendekonstruksi dan merekonstruksi pola perkembangan saat ini dan memproyeksikanya untuk masa depan. Bercermin pada masa lalu selain memberikan inspirasi imajinatif, juga dalam tingkat tertentu menjelaskan bagaimana posisi kita saat ini. Disinilah saya kira relevansi merenungkan dan melacak kembali akar-akar kebangkitan nasionalisme kita di masa lalu.

Nasionalisme Indonesia sebagai fenomena historis tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah perkembangan munculnya gagasan negara bangsa (nation state) di Eropa. Sebab, gagasan nasionalisme kita diinspirasikan oleh gagasan-gagasan nasionalisme Eropa yang  terbentuk akibat terjadinya ekspansi kapitalisme, semaraknya humanism secular dan agnotisisme serta, ini mungkin yang terpenting, konflik sengit (schisme) antara kekuasaan gereja dengan para kaisar. Munculnya nasionalisme Italia di zaman Renaisans (Abad XIV-XVI) yang dipelopori Niccolo Machiavelli merupakan salah satu contoh yang menunjukkan unsur-unsur penggerak kemunculan nasionalisme Barat.

Ada teori lain mengenai kemunculan nasionalisme. Dalam tulisannya, “Qu’est-ce Qu,une nation? (Apakah Bangsa Itu?) Ernest Renan berpendapat bahwa unsur formatif dan integrative nasionalisme adalah  ‘keinginan untuk selalu hidup bersama (le desire de vivre ensemble) yang secara historis muncul karena pengalaman penindasan kolonialisme social sebagai unsure formatif dan integrative nasionalisme. Peranan media massa elektronik dan cetak, alat-alat transportasi dan jaringan komunikasi masa lainnya menjadi begitu penting dalam pembentukan etos nasionalisme. E.J Hobsbawm menyebut beberapa “criteria objektif” nasionalisme: bahasa yang sama (linguafrance), etnistas, persamaan sejarah masa lalu dan ikatan-ikatan cultural (1990:5).

Bagaimana dengan nasionalisme Indonesia? Factor-faktor atau etos historis yang membangkitkan nasionalisme kita dimasa lalu? Nasionalisme Indonesia, seperti dikemukakan di atas, meskipun memiliki kaitan erat dengan kemunculan gagasan nasionalisme dan negara bangsa di Eropa bukanlah berarti dengan begitu mudah kita mempersamakan kedua ritus nasionalisme itu. Sebab kekuatan-kekuatan sejarah yang membangkitkan tumbuhnya nasionalisme Indonesia, pada segi-segi tertentu, berbeda dengan kekuatan-kekuatan sejarah yang membidani lahirnya nasionalisme Eropa.

Pemikiran George Mc. Turner Kahin dalam karya klasiknya, Nationalism and Revolution in Indonesia (Ithaca: Cornell, 1952) yang penulis jadikan acuan dasar tulisan ini memberikan jawaban mengapa nasionalisme Indonesia dan kekuatan-kekutan sejarah yang membangkitkannya berbeda dengan yang terdapat di belhan bumi Eropa. Satu hlm yang menyebabkan kedua nasionalisme itu berbeda adalah konteks historis dan lingkungan tempat bangkitnya kedua nasionalisme itu. Nasionalisme Indonesia bangkit dalam konteks historis yang unik, dan keunikan itu semakin transparan bila nasionalisme Indonesia itu dibandingkan dengan nasionalisme Indoa, Filipina, Malaysia dan negara-negara Afrika.

Kahin menyebutkan beberapa kekuatan sejarah yang membangkitkan nasionalisme kita. Pertama adalah agama Islam. Islam sebagai agama mayoritas menjadikan nasionalisme Indonesia unik bila dibandingkan dengan nasionalisme barat. Seperti dikatakan diatas, di Barat nasionalisme tumbuh karena terjadinya pertarungan antara kaisar dengan kekuasaan gereja, sementara di Indonesia nasionalisme pada segi-segi tertentu, justru merupakan produk ritus keislaman. Dalam bahasa Kahin, nasionalisme Indonesia tidak lain merupakan suatu produk homogenitas keagamaan yang ditanamkan Islam karena ia merupakan agama mayoritas bangsa Indonesia (1952:38).

Begitu eratnya kaitan islam dengan rasa kebangsaan, gambaran tentang “bangsa kita” di masa-masa awal pergerakan nasional tidak lain adalah pribumi muslim. Islam menjelaskan posisi social seseorang, apakah ia seorang nasionalis atau bukan. Fungsi identifikasi nasionalistik itu mirip dengan apa yang terjadi di Malaysia. Mereka yangdinamakan “bangsa melayu” tidak lain adalah mereka yang beragama Islam. Mereka yang non Muslim, bagaimanapun layalitas mereka kepada bangsa, tetap sulit diidentifikasi atau diakui sebagai “bangsa Melayu”, maka, cara terbaik untuk bisa di identifikasi sebagai “bangsa Melayu” adalah dengan menjadi seorang muslim.

Identifikasi Islam yang begitu kuat dengan etos kebangkitan nasionalisme Indonesia juga adalah karena agama ini menjadi symbol perlawanan pribumi terhadap kolonialisme Belanda selama berabad-abad. Kehadiran Islam dalam wacana politik zaman penjajahan memperjelaskan identifikasi diri (self identification) tentang siapa yang pejuang, penjajah atau antek-anteknya. Dalam perang Aceh, penjajah Belanda diidentifikasi sebagai kafir dan harus diperangi. Shouck Hurgronye berpendapat bahwa kegigihan rakyat Aceh secara terus menerus memerangi belanda tidaklah semata-mata karena alasan politik bahwa Belanda adalah penjajah melainkan juga karena mereka adalah orang-orang kafir yang wajib diperangi. Jadi perlawanan rakyat Aceh memiliki dasar teologis yang kokoh. Dalam konteks inilah konsep jihad (dalam makna khusus: Perang Suci) memiliki peranan  khusus dalam mengorbankan semangat anti kafir Belanda. Karena itu tidak mengherankan, menurut Herbert Feith dan Lance Castle berbagai gerakan anti penindasan kolonialis di Indonesia digerakan oleh ruh jihad Islam.

Agama ini juga memberikan basis ideologis yang kokoh bagi terbentuknya organisasi-organisasi nasionalis perintis kemerdekaan seperti Sarekat Islam, Muhmammadiah dan Nahdatul Ulama yang menurut Nieuwenhuijz merupakan organisasi yang sangat kuat mengidentifikasi Islam dengan nasionalisme Indonesia dan mendukung pembentukan negara nasional Indonesia yang merdeka dari penjajahan colonial (1958:54). Maka, cukup mengherankan apabila ada pendapat yang menyatakan bahwa Budi Utomo lah (lahir 1908) yang merupakan organisasi pergerakan nasionalis pertama di negeri ini. Padahal dari segi basis ideologis, basis massa, ruang lingkup social pergerakannya, Budi Utomo bersifat local dan terbatas dibandingkan dengan organisasi nasionalis seperti Serekat Islam misalnya.

Budi utomo, sebagimana tercatat dalam buku-buku sejarah, adalah organisasi yang lebih menunjukan sifatnya yang “Jawa Sentris, dari pada wataknya yang nasonalistik”. Etnosentrisme Jawa begitu kental terlihat dalam ideology gerakannya sehingga ketika beberapa tokohnya ingin menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional harus menghadapi perdebatan sengit. Sebagian tokoh Budi Utomo lainnya menghendaki bahasa Jawa sebagai bahasa nasional. Pendukungnya juga terbatas pada segelintir orang Jawa dengan tokohnya dari sekolah kedokteran Stovia.

Kebangkitan nasionalisme Indonesia juga karena adanya bahasa Melayu. Bahasa Melayu merupakan Lingua Franca. Semenjak ditetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional pada 28 Oktober 1928 ia telah menjadi perekat ikatan batin rakyat Indonesia. Kahin mengakui bahasa persatuan itu telah berhasil mendobrak sentiment-sentimen parochial dalam nasionalisme Indonesia (1952:39). Di satu pihak, pemerintah colonial Belanda secara sengaja membiarkan digunakannya bahasa Melayu adalam system pemerintahannya, tetapi di lain pihak menekankan prestise berbahasa Belanda dengan orang-orang Belanda. Ini menimbulkan perasaan rendah diri bangsa Indonesia.

Dengan cara itu Belanda telah mempolitisasi bahasa sebagai senjata politik untuk mempertahankan struktur kekuasaan colonial di atas kebodohan dan kedunguan serta perasaan rendah diri inlanders. Pemerintah colonial tahu bahwa penggunaan bahasa Belanda oleh rakyat jajahan akan menghilangkan perasaan inferioritas mereka. Dan itu tentu saja harus dihindari. Cara itu juga dimaksudkan agar rakyat jajahan terisolir dari dunia luar. Menjadi ibarat katak dalam  tempurung. Tetapi pemerintahan colonial tidak menyadari akibat politisasi bahasa itu. Pelarangan itu ternyata justru berakibat buruk. Kaum pergerakan nasionalis kemudian menjadikan bahasa melayu sebagai bahasa nasional dan menjadikan senjata ampuh melawan pemerintahan belanda.Ritus kebesaran masa lampau Indonesia (the glory of the past) merupakan kekuatan sejarah yang membangkitkan etos nasionalisme kita. Fondasi nasionalisme Indonesia sedemikian kokoh karena negara ini memiliki jaman keemasan dan kebesaran di masa lampau. Di jamannya, Singasari pernah meluluh lantakan ambisi imperialistic Khublai Khan untuk menaklukan tanah Jawa pada abad 13. Kekuasaan kerajaan Sriwijaya mencakup hampir seluruh kepulauan Nusantara, laut Cina Selatan, sebagian daerah India dan berhasil keluar sebagai pemenang dalam perang melawan kerajaan Kamboja serta menjadi pusat internasional studi agama Budha. Kerajaan lain, Majapahit selain menguasai hampir seluruh Nusantara dan sebagian tanah Melayu juga berhasil membangun system pemerintahan yang stabil, kuat dan disegani kerajaan-kerjaan di Asia Tenggara.

Kebesaran dan zaman keemasan Indonesia masa lampau itu tercatat dalam monument-monumen historis, diantaranya Candi Borobudur yang dibangun dinasti Syailendra pada abad ke 9 Masehi. Ukiran, ornamen, kontruksi bangunan dan relief-relief candi ini amat mengagumkan. Sejarahwan Belanda terkemuka, Vlekke menghitung terdapat sekitar kurang lebih 400 arca, dan ukiran serta relief menghiasi dinding dan teras-teras candi. Berdasarkan pengamatan arkeologis historisnya atas kemegahan candi ini, Vlekke berkesimpulan bahwa Mataram di zaman Syailendra pastilah merupakan kerajaan yang kaya dan makmur, memiliki penguasa yang kuat dan disegani, kebudayaan dan berbagai karya kesenian dan lain-lain (1959:33).

Kaum nasionalis pejuang seperti Sukarno, Hatta, Nazir Pamuncak, Sutomo, Syahrir dan lain-lain menyadari benar akan makna simbolik kebesaran masa lampau itu untuk dijadikan kekuatan penggerak kebangkitan nasionalisme. Untuk membangkitkan rasa percaya diri sebagai suatu bangsa yang besar, Sukarno kerap mengungkapkan kebesaran Indoneisa zaman kerajaan Majapahit abad 13. Obsesi Sukarno akan persatuan dan kesatuan nasional juga tidak bisa dilepaskan dari kebesaran dan keemasan Nusantara masa lampau itu. Bagi Sukarno, zaman kekemasan itu menjadi credo sentral nasionalismenya. Vlekke juga mengungkapkan ketika tokoh-tokoh nasionalis itu diadili colonial Belanda, mereka membuat pembelaan dengan menggunakan fakta-fakta sejarah zaman kebesaran dan keemasan masa lampau itu. Di pengadilan mereka mengejek hakim-hakim Belanda dengan menunjukan kebesaran bangsa Indonesia di Zaman lampau. Dengan bangga pejuang nasionalis mengatakan bahwa ketika candi Borobudur dibangun pada abad IX, pada kurun yang sama bangsa Belanda masih merupakan bangsa yang liar. Masih menjadi bangsa barbar, belum beradab (uncivilized)! Bangsa Belanda masih tinggal di gua-gua dan masih membunuh sesamanya.

Selain factor-faktor di atas, kebangkitan nasionalisme juga terjadi karena pengaruh internasional. Kemunculan nasionalisme Indonesia sangat dipengaruhi oleh kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905. Dengan kemenangan itu, bangsa-bangsa Asia, termasuk Indonesia memperoleh   kembali rasa percaya diri. Kemenangan itu melebur mitos keunggulan ras barat atas ras Asia. Keberhasilan modrnisasi Jepang yang dilakukan sejak restorasi Meiji semakin memperkokoh percaya diri itu. Juga gerakan-gerakan politik nasionalis radikal Eropa yang menuntut kemerdekaan seperti yang terjadi di Polandia, Chekoslowakia, Finlandia dan negara-negara Baltik, pada awal abad XX. Di negara-negara itu Kaum Nasionalis Berhasil melawan kolonialisme dan imperialism dan membentuk negara-negara merdeka. Peristiwa bersejarah ini berpengaruh terhadap para mahasiswa Indonesia (misalnya Hatta, Sutomo, NAzir Pamuncak dan Syahrir) yang sedang belajar di Eropa, terutama di Belanda. Ketiaka mereka kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya, gerakan-gerakan anti kolonialisme Eropa itu memberikan inspirasi bagi mereka untuk membangkitkan perasaan nasionalisme dan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Dr Ahmad Suhelmi, MA adalah Guru Besar FISIP-UI


Bookmarks (18) 0 Buka: 3782

Komentar
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.2

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >