Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Jumat, 23 Mei 2008
Arah Nasional Baru Kita

Assalamualaikum Wr Wb

Yang terhormat Bapak Hatta Rajasa, Menteri Sekretaris Negara, sekaligus Ketua Umum peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, Bapak/Ibu Pembicara, para senior dan kawan kawan seperjoangan, teman-teman wartawan, dan hadirin sekalian. Terima kasih atas kehadirannya di forum dialog peradaban ini.

Tema dialog kita hari ini adalah “HOS Tjokroaminoto versus Wahidin Sudirohusodo (SI vs BO): Mencari Kompromi Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional”. Kami mengambil tema ini mengingat pentingnya kita merenungkan bahwa pada saat ini puluhan ribu bahkan ratusan ribu rakyat kita memperingati kebangkitan satu abad Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Peringatan tersebut dilakukan secara besar-besaran. Bahkan media massa mengulas peristiwa kebangkitan ini dan juga menampilkan berbagai tulisan tentang nasionalisme. Dengan tema ini kita berusaha mengkaji; benarkah memang kita sudah berketapan hati menyatakan tonggak kebangkitan bangsa ini di mulai saat Boedi Oetomo berdiri pada tanggal 20 Mei 1908? Apakah cita-cita, spirit, cara perjoangan, jejak langkah perjoangan Boedi Oetomo dan para pendirinya  memang merupakan sesuatu yang sangat utama dan hebat dibandingkan dengan organisasi perjoangan lainnya, tokoh-tokoh lainnya di masa penjajahan Belanda? Apakah perjoangan Boedi Oetomo mampu menghasilkan spirit yang kokoh  bagi bangsa kita saat ini dengan merujuk pada perjuangan yang dilakukan para pendahulu tersebut di masa lalu?

Apa yang terjadi seabad yang lalu pada bangsa ini? Seabad yang lalu dunia tengah tumbuh berkembang pada tahap kapitalisme global tahap awal, atau sering disebut era merkentalism, yang beriringan dengan masa kolonialisme. Sebuah sistem dunia saat itu  menempatkan masyarakat barat sebagai masyarakat superior, di mana Barat mempunyai legitimasi, baik berdasarkan konstitusinya maupun legitimasi pengembalaan dari agama yang dianut mereka (baca: pembelokan dengan dalih agama), untuk menjajah bangsa-bangsa non barat dan menghisap seluruh kekayaan dari bangsa-bangsa yang dijajah tersebut, khususnya emas dan perak. Indonesia adalah sebuah bangsa yang jadi korban keganasan kapitalisme tahap awal tersebut, yang menderita penjajahan selama 350 tahun. Potret 100 tahun yang lalu bangsa ini adalah bangsa yang hancur kemerdekaannya, kehilangan martabat dan kemandiriannya.

Perlawanan-perlawanan yang sengit telah berlangsung secara terus menerus secara lokal dari tokoh-tokoh perjoangan, seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Pattimura dan lain-lain (Semoga Allah memberikan tempat yang layak disisiNya), namun perjoangan ini belum mengarah pada perjoangan nasional. Perjoangan nasional muncul di awal abad 20 melalui organisasi-organisai seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam (awalnya Sarekat Dagang Islam), Indishe Partij,  Perhimpunan Indonesia, Muhammadiyah, Nadatul Oelama, Partai Nasionalis Indonesia, Partai Komunis Indonesia, Masjumi, Parindra, dll yang melawan penjajahan dengan issu yang lebih strategis dengan cara-cara modern dan melalui organisasi modern. Dalam kaitannya dengan tema seminar ini, benarkah tonggak sejarah kebangsaan Bangsa Indonesia tersebut terjadi dengan perjoangan Boedi Oetomo?

Tidak mungkin kita pungkiri bahwa Boedi Oetomo dan tokoh-tokohnya seperti Soetomo, Wahidin Sudirohusodo, Tjipto Mangunkusumo, dan lain-lain memberikan kesadaran baru bagi masyarakat Jawa dan Madura saat itu untuk berorgansisasi dan memperjuangkan ide-ide melalui cara-cara modern. Tuntutan Boedi oetomo untuk kesetaraan dalam mengenyam pendidikan antara (elite) masyarakat Jawa/Madura dengan Belanda haruslah diapresiasi, disamping pula bergerak dalam bidang sosial. Dalam sisi gerakan, Wahidin yang berjuang untuk menggalang dana pendidikan (studiefonds) keberbagai pihak dan tempat, tentu membangkitkan suatu kesadaran hak-hak pribumi untuk maju seperti bangsa Belanda. Namun, tentu dalam pemberian pengakuan atas sejarah yang ada,  kita perlu melihat sebesar apakah gerakan Boedi Oetomo tersebut? Apakah gerakan ini mempunyai visi dan misi yang jelas dalam membangun suatu nasionalisme kebangsaan, yang vis a vis berhadapan dengan bangsa penjajah? Apakah visi dan misi gerakan, ideologi dan metode perjuangan mampu menggalang kekuatan rakyat Indonesia untuk menyadari hak-haknya berjuang melepaskan diri dari penjajahan?

Semua catatan sejarah menunjukkan bahwa Boedi Oetomo tidak mempunyai visi dan misi yang memang ditujukan untuk kemerdekaan Bangsa Indonesia, apalagi anggaran dasarnya membatasi cakupan organisasi hanya Jawa dan Madura saja. Perjuangan Boedi Oetomo sesungguhnya masih masuk dalam politik etis pemerintahan kolonial, yang memang harus memajukan pendidikan di negara jajahannya, sesuai dengan pergolakan politik di Belanda waktu itu, di mana muncul kebangkitan sosialisme di Belanda dan eropa yang mempersoalkan hak-hak manusia di negara jajahan.  Disamping itu, Boedi Oetomo lebih merupakan perkumpulan daripada alat perjuangan. Jika memang sebuah alat perjuangan tentu organisasi tersebut akan mengedepankan ideologi dalam gerakannya.

Saudara-saudara, Bapak/Ibu hadirin sekalian,

Kejahatan Belanda berabad-abad di Indonesia telah berurat berakar sampai kejantung rakyat yang paling kecil. Setiap Belanda datang ke suatu desa, maka semua pemuda-pemudi ketakutan dan berusaha menyingkir, terutama gadis-gadis desanya. Alam sadar mayoritas anak bangsa saat itu adalah pasrah untuk dijajah. Meskipun harus bekerja keras dalam sistem tanam paksa, tetap saja harus pasrah.  Keruntuhan martabat dan kehilangan kemerdekaan saat itu tentu saja hanya bisa dihadapi oleh suatu kekuatan organisasi yang ideologis, yang kuat visi dan misinya serta memiliki pemimpin-pemimpin organisasi pergerakan yang cakap dan disiplin. Perhimpunan Indonesia di Belanda, Indische Partij, Masjumi, NU, PSI, PNI dan lain-lain merupakan organisasi-organisasi yang muncul dan berkembang melakukan perlawanan dengan ideologi yang jelas. Ideologi di sini maksudnya adalah memberikan persfektif tentang perjuangan, memberitahukan dasar-dasar untuk berjuang dan memberikan semangat pantang menyerah untuk perjuangan.

Dalam hlm ini tentu kita perlu mempertimbangkan bahwa kehadiran Sarekat Islam (1912) yang diawali Sarekat Dagang Islam (1905), memberikan suatu semangat perjuangan yang sesungguhnya dibutuhkan rakyat tempo itu untuk melawan Belanda. Perjuangan Serikat  Islam dilandasi visi dan misi yang jelas, yakni memerdekakan Indonesia dari penjajahan. Metode perjuangannya pun melibatkan rakyat secara luas dan meliputi semua daerah Indonesia. Tidak heran perjoangan SI mendapatkan tempat dihati rakyat  sehingga baru sekitar 4 tahun berdiri sudah memiliki 180 cabang dan 800 ribu anggota di Pulau Jawa dan luar jawa. SI juga membangkitkan kesadaran tentang harga diri dan keinginan berdiri di atas kaki sendiri bagi segenap bangsa kita. Ideologi anti penjajahan begitu dalam dan menyerap dihati kalbu pengurus SI di manapun berada, disamping kesederhanaan pemimpin-pemimpinnya. Kebesaran Si di masa itu tidak lepas dari ketokohan pemimpinnya Tjokroaminoto. Pemimin yang dianggap mampu membebaskan kita dari belenggu penjajahan, sehingga membuat Soekarno, Alimin, Muso, Kartosuwirjo sempat berguru kepadanya.

Pergolakan seantero nusantara terjadi secara intensif dalam masa-masa keemasan SI, yang dilakukan dengan pemogokan-pemogokan buruh, rapat-rapat umum dan bahkan beberapa kali terjadi kerusuhan setelahnya. Dalam masa itu, selain menghadapi Belanda, SI juga menghadapi Bangsa Cina yang kala itu masih berorientasi sebagai pendatang (warga Timur Asing), di mana berbagai previlage dari Belanda membuat usaha pribumi hancur diambil alih orang-orang Cina. Pergolakan ini juga merupakan kekhasan SI yang tidak terlalu koperatif terhadap Belanda.

Bapak/Ibu sekalian,

Tentu kita tidak berusaha secara egois mengatakan bahwa organisasi tertentu dan pemimpin tertentu adalah yang paling berhak menjadi tonggak sejarah kebangkitan nasional. Tiga dasawarsa lebih orde baru berkuasa memang telah menghilangkan daya ingat kaum muda kita pada sejarah bangsanya. Berbagai tokoh-tokoh di Timur Tengah, saat ini, menjadi idola bagi sejumlah besar kaum muda kita, beberapa tokoh-tokoh di Amerika latin juga menjadi idola sebagain besar pemuda lainnya, begitu pula tokoh-tokoh yang muncul di Barat, juga diidolakan sebagian lainnya. Pada saat bersamaan, kita kehilangan riwayat atas pejuang-pejuang kita sendiri, pemikiran-pemikiran yang besar yang pernah ditelurkan oleh mereka. Beberapa waktu lalu, saya mendengar berbagai kelompok progresif kaum muda merencanakan untuk mengundang Eva Morales, Chavez bahkan Ahmadinejad untuk bisa datang ke Indonesia mengajarkan mereka untuk bangkit. Saya juga mendengar beberapa anak-anak muda mengidolakan Jusuf Qardawi sebagai referensi hidup dan perjuangannya.  Namun, saya jarang mendengar kaum muda Indonesia membanggakan secara sungguh2 pemimpin dari kalangannya sendiri.

Selama masa Soeharto, tentu kita ketahui bahwa prinsip Ekonomi Yes, Politik No! nya Orde Baru membuat kita semua menjauh dari politik. Akhirnya bangsa ini belum memunculkan pemimpin-pemimpin politik besar yang mampu menjadi panutan bangsanya, yang merupakan kontinuitas perjuangan kemerdekaan. Sehingga, ketika kita berkata seabad kebangkitan nasional, kita kesulitan menarik semangat di dalamnya.

Bapak/Ibu yang saya hormati,

Sejatinya persoalan bangsa kita masih tetap sama ketika 100 tahun yang lalu perjuangan kebangsaan dimulai. Kemiskinan, pengangguran, ketertindasan, pertikaian merupakan kata-kata yang menunjukkan adanya persoalan kemandirian dan kemartabatan pada diri kita. Beberapa elite kita menyadari bahwa dalam berhubungan dengan bangsa asing (tetap sama yakni Barat), kita selalu mengalami perundingan yang tidak benar dalam mengamankan sumberdaya alam yang kita miliki, baik minyak, batubara, hutan, hasil laut, telekomunikasi, dan lain-lain. Kita juga masih mengakui bahwa industri nasional kita tidak mempunyai arah yang jelas? Apakah kita akan masuk pada industri pedasaan dan pertanian ataukan pada industri yang lain? Sehingga ketergantungan kita pada teknologi tetap terjadi dalam skala yang besar terhadap asing. Di bidang politik dan budaya kita juga mengalami tekanan-tekanan yang seringkali kita akui memberikan penurunan derajat kedaulatan kita.

Dengan demikian, tentu sangat penting buat kita menyambungkan kembali semangat perjuangan yang akan kita tempuh saat ini dengan semangat perjuangan yang ditempuh para pemimpin kita dahulu. Kita dapat memilih semangat Boedi Oetomo --yang kooperatif terhadap penjajah, tidak menggunakan kosa kata kemerdekaan untuk bangsanya, serta tidak menggerakkan semangat kerakyatan secara luas-- atau juga kita dapat menggunakan semangat Sarekat Islam --yang tegas terhadap bangsa asing dan menggerakkan kekuatan rakyat-- juga mempunyai cita-cita kemerdekaat yang tinggi. Hal ini terpulang dari kita semua, karena semuanya akan menghadapi konsekwensi kemana bangsa ini akan melangkah.

Saya sendiri berkeyakinan bahwa nasionalisme kita saat ini hanya akan mempunyai arti penting jika melihat kepada nasionalisme Tjokroaminoto/Sarekat Islam yang di dalamnya memuat ideologi perjuangan yang kuat. Di luar konteks tema diskusi ini, tentu tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Natsir, Wahid Hasyim, Syahrir, Agus Salim dll adalah pemimpin besar kita.

Mudah-mudahan diskusi kita pada hari ini, baik sesi politik dengan sub tema “Nasionalisme Kita dahulu dan Saat Ini di Tengah-tengah hegemoni Politik Barat” dan sub tema ekonomi “Kaitan Nasionalisme dalam Pilihan Strategis Arah Pembangunan di Era Globalisasi”, dan tentunya Pidato Utama dari pak Hatta Rajasa, sesuai tema utama kita, dapat memberikan rangsangan untuk kita merenung tentang tonggak sejarah kebangkitan nasional yang sebenar-benarnya kita perlukan dan yakini.

Wassalamualaikum wr. wb.

Syahganda Nainggolan
Direktur Eksekutif CIDES


Bookmarks (21) 0 Buka: 1218

Komentar
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.2

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >