CIDES Minta Anwar Harmoniskan Kembali Hubungan Indonesia - Malaysia
Direktur Eksekutif Center for Information and Development Studies (CIDES), Syahganda Nainggolan, mengharapkan mantan Deputi PM Malaysia, Anwar Ibrahim, ikut mengharmoniskan kembali hubungan Indonesia-Malaysia, terutama dalam penciptaan kerjasama ekonomi dan penggunaan bahasa Melayu yang dipahami bersama.
Hal itu ditegaskan Syahganda dalam pertemuan terbatas CIDES dengan Anwar Ibrahim di Jakarta, Selasa.
Dalam pertemuan terbatas itu hadir sejumlah tokoh di antaranya Mantan Menteri Koperasi Adi Sasono, Ketua Fraksi Partai Golkar DPR Priyo Budi Santoso, Ketua DPP Partai Amanat Nasional Abdul Hakam Naja, Sekjen Partai Persatuan Pembangunan Irgan Chairul Mahfidz, pengusaha muda Erick Tohir, dan Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Aris Mufti.
Menurut Syahganda, harmoni diperlukan mengingat kedua bangsa serumpun tersebut saling terikat dalam sejarah bersama, sehingga tidak boleh terkungkung dalam ketidakharmonisan dalam bentuk apapun.
"Harmoni keduanya juga penting guna membangun kejayaan bersama pada masa mendatang," kata Syahganda.
Lebih lanjut Syahganda mengatakan bahwa sebagai tokoh yang banyak berperan dalam peningkatan hubungan Indonesia-Malaysia, Anwar Ibrahim diharapkan dapat mengurangi ketegangan politik antar kedua negara, baik yang dipicu oleh isu tenaga kerja Indonesia di Malaysia, klaim sepihak Malaysia atas kesenian Indonesia, maupun akibat konflik perbatasan.
"Dengan pengaruhnya yang besar di Malaysia serta penerimaan masyarakat Indonesia yang luas terhadap ketokohannya, Anwar diyakini akan mampu mengembalikan harmoni kedua bangsa yang akhir-akhir ini mulai banyak terganggu," ujar Syahganda.
Syahganda juga meminta Anwar agar kedua bangsa serumpun ini dapat menggunakan bahasa melayu yang saling dimengerti kedua pihak.
"Tidak seperti yang kini terjadi, orang Indonesia tidak mudah memahami pembicaraan orang Malaysia. Padahal, kemudahan bahasa itu akan berpengaruh pada kerjasama ekonomi maupun budaya," katanya.
Sementara itu Anwar yang kini sebagai pemimpin utama oposisi di Malaysia itu juga mengungkapkan keprihatinan yang sama.
Dia bahkan mengakui bahwa kesenjangan Indonesia-Malaysia akan berada pada bahaya lebih serius jika tidak dicarikan solusi yang benar.
Terkait kerjasama ekonomi dan budaya, Anwar mengatakan, kedua bangsa tidak boleh melupakan sama sekali karena peluangnya selalu terbuka dalam segala hal.
Pada kesempatan itu, Anwar juga mengisahkan saat sekolah dia kerap membaca buku berbahasa Indonesia, sehingga tidak mengalami kesulitan apapun berbicara dengan orang-orang Indonesia.
"Jadi, kesepahaman dalam penggunaan bahasa memang penting untuk masa depan bangsa Indonesia dan Malaysia," ujar Anwar Ibrahim.