(Umar Juoro) Bagi konsumen berpendapatan tinggi, mereka tidak menghadapi banyak permasalahan dengan kenaikan harga pangan. Tapi, bagi konsumen berpendapatan rendah, kenaikan harga pangan sangat menurunkan daya beli mereka karena sebagian besar pengeluaran untuk bahan pangan. Dengan inflasi yang tinggi, jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan akan bertambah... klik
Kolom Politik
Problematika Partai Politik Kontemporer
(Firman Noor) ...fenomena yang terjadi pada pilkada sesungguhnya menjadi ajang pembuktian tentang banyak hal. Diantaranya adalah pertarungan antara pilihan rasional rakyat dan kepercayaan diri yang berlebihan dari partai politik. Pilihan rasional sebagai sesuatu yang selama ini relatif tidak terbayangkan dalam dunia politik nasional... klik
Peranan Pasar Modal dalam Menggerakkan Pertumbuhan Ekonomi Sektor Riil
Selasa, 25 Maret 2008
”Peranan pasar modal ialah bagaimana pertumbuhan pasar modal harus memberikan juga pertumbuhan kepada pasar riil. Itu baru bisa dikatakan pasar modal menggerakkan perekonomian Indonesia” Wakil Presiden RI, M Jusuf Kalla"
(Pada Pembukaan Indonesia Investor Forum 29 Mei 2007)
Jenis pasar dalam perekonomian dibagi menjadi pasar barang dan jasa atau product market dan pasar faktor produksi seperti tenaga kerja dan kapital atau factor market. Salah satu bagian dari factor market yaitu Pasar Modal. Secara teori, dana yang didapatkan oleh perusahaan baik melalui pasar modal atau perbankan akan digunakan untuk membeli bahan baku dan dengan bantun dari faktor produksi lainnya akan diolah lalu menjadi produk berupa barang dan jasa yang akan dikonsumsi oleh masyarakat. Dana yang didapatkan dari hasil penjualan barang dan jasa tersebut oleh perusahaan akan digunakan untuk menambah modal perusahaan, membayar upah dan sewa faktor produksi, dan sebagian lagi ditabung diperbankan atau diputar dipasar modal. Dana yang terkumpul baik berasal dari institusi maupun perorangan diperbankan dan atau pasar modal itulah yang akan ditransmisikan kembali ke sektor riil.
Idealnya adalah setiap pertumbuhan yang terjadi dipasar modal mempunyai implikasi nyata pada sektor riil. Virtuous circle itulah yang diharapkan terjadi agar Indonesia bisa terus bertumbuh dan sekaligus membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas lagi dan pada akhirnya adalah mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan.
Bila melihat perkembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang merupakan hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) pada akhir tahun 2007. Pergerakan Pasar Modal Indonesia sepanjang tahun 2007 bisa dikatakan luar biasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI mencatat kinerja terbaik di 2007 yaitu pernah mencapai 2.810,9 pada 11 Desember dan ditutup pada akhir tahun menjadi 2.739. Berarti pertumbuhan IHSG mencapai 52,08% dari tahun sebelumnya dan ini merupakan pertumbuhan tertinggi kedua setelah Bursa Saham China. Nilai kapitalisasi pasar juga meningkat lebih dari 57% dibanding 2006 yaitu sebesar 1.927 triliun rupiah. Peran pasar modal terhadap PDB juga meningkat dari 37,4% di 2006 menjadi 67% PDB di 2007. Nilai transaksi tahunan juga meningkat 130% menjadi lebih dari 1.043 triliun rupiah. Demikian juga dengan transaksi harian meningkat 138,88% dari 1,85 triliun rupiah di 2006 menjadi 4,3 triliun rupiah di 2007. Ada 61 perusahaan yang masuk ke pasar modal yang terdiri dari 22 perusahaan menerbitkan saham dan 38 perusahaan menerbitkan obligasi dengan nilai total emisi sebesar 47 triliun rupiah. Sementara nilai emisi tahun 2006 hanya mencapai 12,7 triliun rupiah. Inilah salah satu pertanda bahwa pasar modal dan sektor riil merupakan statu hubungan yang tidak terpisahkan.
Bila kita melihat lebih jauh lagi tentang perkembangan sektor riil yang mencakup sektor produktif, sektor manufaktur dan sektor infrastruktur adanya gejala penurunan kualitas pertumbuhan bahkan dibeberapa sektor mengalami pertumbuhan negatif atau mulai timbulnya gejala deindustrialisasi. Berdasarkan data BPS 2007 elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap tenaga kerja antara 180.000 – 200.000. Data ini menunjukkan adanya pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sektor yang menyerap tenaga kerja banyak ke sektor yang menyerap tenaga kerja lebih sedikit seperti sektor transportasi dan telekomunikasi 12,5% dan perdagangan 8,5%. Sementara itu pertumbuhan sektor pertanian hanya 4,3% dan angka pertumbuhan industri non migas pada 2007 hanya tumbuh 5,15% atau lebih rendah dari prognosa awal sebesar 6,31%. Tiga sektor tercatat mengalami pertumbuhan negatif yakni tekstil, barang kulit dan alas kaki (-3,68%), barang kayu dan hasil hutan (-1,74%), dan barang lainnya (-2,82%). Penyerapan tenaga kerja disektor manufaktur hanya bertambah 220.000 orang saja.
Dari dua hal diatas ada dua hal yang kontradiksi yaitu kinerja pasar modal yang mengkilap sepanjang tahun 2007 kemarin ternyata tidak diimbangi dengan kinerja pada sektor riil atau sektor yang menyerap tenaga kerja. Pertumbuhan indeks saham Indonesia dan besarnya permintaan investor dalam tiap penawaran saham perdana menunjukkan pasar modal Indonesia memiliki prospek yang sangat baik. Pada sisi lain, dampak perkembangan pasar modal ke sektor riil masih terbatas. Mengapa kinerja indeks pasar modal yang meningkat tersebut tidak diikuti peningkatan kondisi perekonomian disektor riil. Sepertinya kinerja pasar modal telah terlepas dari pertumbuhan ekonomi sektor riil atau mekanisme transmisi antara pasar modal dan sektor riil telah terputus. Inilah tantangan kita ke Pemerintah ke depan agar dapat meningkatkan peranan dan kontribusi pasar modal dalam menggerakkan perekonomian nasional khususnya sektor riil. Peningkatan sektor riil tentu akan menyerap tenaga kerja yang berujung pada pengurangan tingkat pengangguran dan kemiskinan. Peningkatan jumlah tenaga kerja tentu akan meningkatkan produktivitas dan daya beli masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan tabungan dan investasi masyarakat diperbankan dan pasar modal. Dengan virtuous circle seperti ini, maka akan tercipta perekonomian yang sehat dan stabil dalam jangka panjang.
(Indria Samego) "jika kebebasan politik dikorbankan. Sistem kepartaian diatur sedemikian rupa dengan membangun “seolah-olah ada demokrasi”. Jumlah partai disederhanakan, dari 9 menjadi 2...
(Lufti Alkatiri) "Setiap kunjungan Presiden ke luar negeri tentu mempunyai misi ekonomi yaitu mencari peluang ekspor dan menarik investasi asing. Dalam hal inilah, CIDES sebagai lembaga kajian ekonomi politik melihat pentingnya perjalanan Presiden ke Timur Tengah di tengah kondisi ekonomi global yang sedang tidak menentu."
(Diskusi Politik) "Tahun 2008 dianggap tahun pasok pangan terendah selama 25 tahun terakhir. Kita sangat bergantung dari luar. Sementara faktor domestik adalah faktor fundamental yakni kemiskinan, kesenjangan dan pengangguran. Persoalannya, jika faktor eksternal dan internal ketemu bisa jadi malapetaka."
(Harianto Solichin) "kondisi ekonomi, perbankan, dan keuangan Indonesia mengalami kemajuan..."
Paparan
CIDES Usulkan Natsir Pahlawan Nasional (Syahganda Nainggolan) ...bangsa Indonesia perlu melihat sosok almarhum Natsir sebagai negarawan sejati, yang tidak saja patut diteladani, namun juga harus dihormati perjuangan maupun ketokohannya. “Dengan demikian, bangsa ini akan selalu menjadi bangsa yang besar serta terhormat, apalagi sosok Natsir sangat dihormati oleh dunia Internasional.”...klik
Kasus Pembangkanan Kepala Daerah atas Kebijakan Pemerintahan Pusat
(Rully Chairul Azwar) Pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah yang diberikan seluasnya kepada daerah kabupaten/kota dalam mengatur dan mengelola segenap potensi dirinya demi mewujudkan kesejahteraan rakyat setempat, dalam kerangka NKRI. Tawaran solusi ini dimaksudkan semata untuk memangkas rantai birokrasi dan rentang kendali yang terlalu panjang ... klik
Merumuskan Sistem Pemerintahan yang Efektif (Sambutan Dewan Eksekutif CIDES)
(Syahganda Nainggolan) Pada tahun 2009 kita juga akan mempunyai pemerintahan baru hasil pemilihan presiden/wapres. Suatu kenyataan semua partai yang ada belum mampu satu di antaranya mengungguli yang lain dengan perolehan yang luar biasa besarnya. Artinya tidak ada mayoritas tunggal. Sehingga pemerintahan nantinya juga merupakan pemerintahan koalisi yang juga membutuhkan suatu konsensus sejak awal terhadap ide pemerintahan yang efektif tersebut... klik
Sekapur Sirih
Assalaamu'alaikum wr wb
CIDES (Center for Information and Development Studies) didirikan pada 25 Januari 1993 oleh para intelektual dan aktivis pro demokrasi, yang bernaung di bawah Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), yang gelisah terhadap situasi politik yang anti demokrasi pada saat itu. Kebebasan berpolitik, bahkan di tingkat wacana, masih sangat dibatasi oleh rezim otoritarian Orde Baru. Isu-isu demokrasi, hak asasi manusia, kesenjangan sosial, kemiskinan, dan pembangunan, berkelanjutan menjadi isu utama diusung CIDES sebagai isu perlawanan terhadap kemapanan yang didiktekan Orde Baru bagi Bangsa Indonesia. Tradisi kritis para intelektual CIDES ketika itu --hampir semuanya mantan aktivis kampus-- sedikitnya telah memberi input pentingnya demokrasi ditegakkan kepada Presiden Suharto, melalui hubungan CIDES yang baik dengan Professor Habibie, kepercayaan Soeharto.
Paska reformasi politik, di mana demokasi sudah berlangsung, CIDES terus melakukan kajian kritis atas kelangsungan arah demokrasi tersebut. Apakah demokrasi sudah mampu menjawab tuntutan masyarakat untuk hidup adil dan sejahtera? Apakah demokrasi seperti saat ini yang memang kita tuntut selama ini? Apakah desentralisasi seperti ini memang yang kita inginkan? ...selanjutnya