PRESS RELEASE, Kunjungan Presiden ke Timur Tengah Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Selasa, 18 Maret 2008
(Lufti Alkatiri) "Setiap kunjungan Presiden ke luar negeri tentu mempunyai misi ekonomi yaitu mencari peluang ekspor dan menarik investasi asing. Dalam hal inilah, CIDES sebagai lembaga kajian ekonomi politik melihat pentingnya perjalanan Presiden ke Timur Tengah di tengah kondisi ekonomi global yang sedang tidak menentu."

PRESS RELEASE, Kunjungan Presiden ke Timur tengah 10 sampai 16 Maret 2008

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dijadwalkan melakukan lawatan ke Iran, Uni Emirat Arab, dan Senegal. Kunjungan kerja tersebut akan dilakukan pada 10–16 Maret. Di Iran, Presiden SBY juga akan membahas peningkatan kerja sama di bidang perdagangan, energi, dan pertanian. Kedatangan Presiden merupakan kunjungan balasan setelah pada Mei 2006 lalu Presiden Iran mengunjungi Indonesia.

Pada 12–15 Maret, Presiden akan menghadiri pertemuan KTT Organisasi Konferensi Islam ke-11 di Senegal. Setelah itu, pada 15–16 Maret, Presiden akan bertolak ke Dubai, Uni Emirat Arab. Dalam kesempatan itu, dia akan bertemu sejumlah investor di Dubai. Dino menambahkan, saat di Dubai, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan diikutsertakan agar dapat bertemu langsung dengan mitra bisnisnya di sana.

Kunjungan Presiden ke Timur Tengah selain mengandung unsur diplomasi dan politik juga bermuatan ekonomi. Setiap kunjungan Presiden ke luar negeri tentu mempunyai misi ekonomi yaitu mencari peluang ekspor dan menarik investasi asing. Dalam hal inilah, CIDES sebagai lembaga kajian ekonomi politik melihat pentingnya perjalanan Presiden ke Timur Tengah ditengah kondisi ekonomi global yang sedang tidak menentu. Pertama, penurunan ekonomi Amerika dan meningkatnya inflasi di Eropa dan China ini akan menyebabkan penurunan daya beli dan menyebabkan penurunan ekspor Indonesia sehingga kunjungan kali ini terasa penting untuk melakukan diversifikasi ekspor ke negara-negara Timur Tengah yang sedang mengalami peningkatan daya beli akibat kenaikan harga minyak dunia.

Kedua, di tengah ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi didalam negeri dan elastisitas pertumbuhan yang semakin kecil dibanding penyerapan lapangan kerja maka investasi terutama untuk sektor riil menjadi hal yang amat penting bagi Indonesia. Kenaikan harga minyak yang telah menembus US$ 110/barel meningkatkan pendapatan dan cadangan devisa negara-negara Timur Tengah sehingga banyak dana-dana dari Timur Tengah baik dari Sovereign Wealth Fund, BUMN dan Swasta yang sedang mencari tempat investasi yang sesuai. Salah satu investasi dari Timur Tengah ialah dalam bentuk obligasi syariah atau sukuk. Aset keuangan syariah global saat ini sekitar US$ 250 – 400 milyar dengan pertumbuhan sekitar 15 % per tahun. Oleh karena itu, CIDES mendorong Pemerintah dan DPR untuk mempercepat pembahasan paket RUU Ekonomi Syariah yang terdiri dari RUU Perbankan Syariah dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk agar perjalanan Presiden ke Timur Tengah mendapatkan hasil yang signifikan. Pemerintah sendiri telah menyerahkan

RUU tersebut kepada DPR pada tanggal 13 Februari 2007. Sukuk ini juga penting untuk menambal APBNP 2008 yang mengalami (perkiraan) defisit 2 % dari PDB akibat kenaikan Subsidi BBM dan Pangan dan sukuk sendiri berbasiskan agunan dan transaksi dengan tujuan untuk membiayai sektor riil. Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah, Alwi Shihab, mengisyaratkan rencana investor dari Timur Tengah berinvestasi di Indonesia hingga US$ 5 M pada 2008. Sekali lagi, CIDES mendesak DPR untuk segera menyelesaikan paket RUU Ekonomi Syariah dan meminta Pemerintah untuk segera mempersiapkan peraturan yang terkait dengannya serta penerbitan sukuk itu sendiri.
Bookmarks (43) 0 Buka: 855

Komentar
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.2

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >