Kekhawatiran Inflasi Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Rabu, 06 Pebruari 2008
(Umar Juoro) Kekhawatiran terhadap inflasi yaitu kenaikan harga barang dan jasa, kembali mencuat ke permukaan. Yang menjadi perhatian bukan saja pemerintah, tetapi juga dunia usaha dan rumah tangga. Tahun 2007 ditutup dengan inflasi sebesar 6,59 perseb lebih tinggi dari perkiraan pemerintah dan banyak ekonom. Tahun 2008, pemerintah mengharapkan inflasi lebih rendah sebesar 5 +/- 1 persen, dan bahkan pada 2009 lebih rendah lagi 4,5 +/- 1 persen. Hampir dapat dipastikan harapan pemerintah ini tidak dapat terpenuhi. Kecenderungan harga bahan pangan cenderung meningkat baik di tingkat internasional dan lokal. Kenaikan harga bahan pangan adalah penyumbang utama inflasi. Tambahan lagi kenaikan harga minyak dan komoditas pertambangan menaikkan biaya produksi pada kegiatan industri pada umumnya yang juga memyumbangkan inflasi.

Dengan bencana banjir di banyak tempat akan menyulitkan distribusi bahan pangan dan merusak lahan tanaman pangan yang akibatnya meningkatkan harga bahan pangan. Kecenderungan di tingkat internasional permintaan terhadap bahan pangan yang meningkat karena perkembangan ekonomi Cina dan India mendorong peningkatan harga bahan pangan di pasar internasional, termasuk beras. Kenaikan harga minyak yang mendekati 100 dolar AS per barel meningkatkan biaya produksi, termasuk makanan dan minuman olahan, yang mempunyai sumbangan besar terhadap inflasi. Bahan makanan mempunyai bobot terbesar pada inflasi.

Banyak produsen berbagai jenis barang konsumsi juga mulai menyesuaikan harga jual produknya seiring dengan kenaikan biaya produksi karena kenaikan harga minyak. Kenaikan harga bahan baku karena meningkatnya harga komoditas pertambangan juga turut menaikkan biaya produksi. Kencederungan meningkatnya inflasi ini merupakan fenomena global dan juga lokal.

Dalam keadaan seperti ini sulit dimengerti mengapa pemerintah memperkirakan inflasi yang lebih rendah pada 2008. Secara politis tampaknya bermaksud untuk menjaga rasa optimisme terhadap perekonomian, namun hal ini dapat menyimpangkan perhatian. Sekalipun demikian pemerintah menyadari kecenderungan meningkatnya inflasi ini, antara lain dengan membentuk tim yang memonitor dan mengendalikan inflasi.

Karena penyumbang utama inflasi adalah bahan pangan, maka perhatian utama dari penentu kebijakan adalah mengupayakan agar bahan pangan tidak mengalami pelonjakan harga. Beras merupakan perhatian utama dalam kenaikan harga pangan ini. Biasanya jika harga beras meningkat, maka impor beras dibuka. Sekarang ini Bulog diperbolehkan impor beras tanpa harus menunggu harga beras di dalam negeri meningkat terlebih dahulu. Namun dengan kecenderungan harga beras di pasar internasional juga meningkat, maka pekerjaan untuk menjaga stabilitas harga beras menjadi relatif lebih sulit.

Penyesuaian harga jual barang-barang konsumsi karena kenaikan biaya produksi dan transportasi seiring dengan kenaikan harga minyak tidak dapat dicegah oleh kebijakan pemerintah, karena perusahaan yang bersangkutan berusaha mempertahankan marjin keuntungan. Biasanya produsen tidak secara seketika menaikkan harga produknya, tetapi secara bertahap agar tidak menurunkan pangsa pasarnya. Apalagi untuk produk yang dikonsumsi oleh masyarakat berpendapatan rendah. Kenaikan harga yang relatif kecil saja akan berpengaruh besar terhadap penjualan. Biasanya produsen melakukan pengurangan ukuran produk yang lebih kecil untuk mengurangi biaya.

Ironisnya kecenderungan inflasi di tingkat global ini tidak ditanggapi oleh bank sentral negara maju, terutama AS, dengan menaikkan suku bunganya yang merupakan kebijakan standar. Permasalahan akibat KPR berkualitas rendah (subprime mortgage) menyebabkan kerugian besar di lembaga keuangan di AS dan dalam hal tertentu juga di Eropa. Akibatnya bank sentral AS kemungkinan akan menurunkan suku bunga lagi untuk mengurangi beban kerugian lembaga keuangan tersebut dan membantu pencicil rumah untuk tidak kehilangan kepemilikannya. Akibatnya upaya untuk mengatasi inflasi di tingkat global menjadi terabaikan.

Kecenderungan meningkatnya inflasi global, dan melemahnya dolar seiring dengan meningkatnya harga minyak berimplikasi serius terhadap perekonomian Indonesia. Melemahnya dolar membuat inflasi dari luar (pass through inflation) sebenarnya menjadi relatif kecil. Namun kenaikan harga minyak seiring dengan melemahnya dolar menyebabkan tekanan pada APBN dan perekonomian secara keseluruhan.

Dengan keadaan seperti ini maka inflasi pada 2008 berada pada tingkatan sekitar tujuh persen. Apa yang perlu dilakukan lebih optimal adalah mengurangi beban masyarakat berpendapatan rendah terutama mereka yang masih berada di sekitar garis kemiskinan. Mereka paling sensitif terhadap kenaikan inflasi karena terkait dengan keterjangkauan kebutuhan pokok terutama pangan.

Bagi otoritas moneter yang tampaknya masih mungkin menurunkan suku bunga jika inflasi rendah, harus lebih serius mengantisipasi kecenderungan peningkatan inflasi ini, jangan sampai terlambat sehingga penyesuaian suku bunga harus dilakukan terlalu tinggi di kemudian hari. Dalam keadaan seperti ini maka sasaran pertumbuhan ekonomi juga harus lebih realistis. Pertumbuhan sekitar enam persen kemungkinan yang akan tercapai. Pertumbuhan yang lebih tinggi membutuhkan perbaikan lingkungan investasi yang signifikan.

Apa yang penting adalah upaya mengurangi pengangguran dan kemiskinan yang tidak harus menunggu pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Mengefektifkan langkah-langkah kongkret di tingkat nasional dan daerah perlu dilakukan dalam aspek penciptaan kesempatan kerja, pendidikan, dan kesehatan. Dalam hal ini keadaannya masih mengkhawatirkan.

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net


Bookmarks (70) 0 Buka: 1805

Komentar
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.2

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >