(Dewi Fortuna Anwar) Islam, Politik dan Ekonomi Global: Perkembangan Pasca Pengeboman WTC.
Pasca pengebomam WTC pada 11 September 2001 (911) hubungan antara masyarakat Muslim dan masyarakat non-Muslim, khususnya di negara-negara Barat, cenderung memburuk dari dekade-dekade sebelumnya. Tindakan sekelompok kecil teroris yang seluruhnya Muslim dan berasal dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim di Timur Tengah, yang menyerang gedung WTC di New York dan gedung Pentagon di Washington D.C. dengan meledakkan pesawat komersil Amerika telah memunculkan kesan ada perang” antara Islam” dan Barat”, khususnya Amerika Serikat. Tindakan pembalasan yang dilakukan pemerintahan Presiden Bush semakin menambah ketegangan antara keduanya, sehingga seolah-olah membenarkan teori Samuel Huntington sebelumnya mengenai adanya konflik peradaban antara Islam dan Barat” menggantikan Konfrontasi Barat dan Komunisme selama Perang Dingin. Ada beberapa indicator yang menunjukkan meningkatnya ketegangan antara Islam” dan Barat” tersebut sejak akhir tahun 2001:
- Stereotype bahwa Islam merupakan agama yang memelopori/toleran terhadap kekerasan, termasuk tindakan terorisme, meningkat dikalangan masyarakat Barat, terutama karena pemberitaan di media massa yang cenderung simplistis. Adanya persepsi populer di kalangan masyarakat Barat bahwa masyarakat Muslim pada umumnya merupakan ancaman bagi negara-negara/masyarakat Barat.
- Meskipun dalam sejarah moderen telah muncul berbagai gerakan politik yang menggunakan terror sebagai taktik perjuangannya, seperti IRA di Irlandia Utara dan Tamil Tiger di Sri Lanka (yang pertama kali menggunakan bom bunuh diri), dewasa ini di negara-negara Barat, baik di lingkungan politik resmi maupun media massa, kata-kata terror” dan terorisme” merujuk kepada gerakan Islam radikal.
- War on Terrorism” yang dilancarkan Presiden George W. Bush sebagai balasan atas serangan teroris 911 dimaknai sebagai perang melawan teroris Muslim.
- Tindakan Amerika Serikat menyerang dan menduduki Afghanistan dan Iraq secara unilateral yang menimbulkan kontroversi internasional memunculkan sikap antipati yang meluas terhadap Amerika Serikat, terutama di negara-negara Muslim dan dikalangan masyarakat Muslim yang bermukim di Eropa Barat. Sebagaimana muncul persepsi popular dikalangan masyarakat Barat bahwa Muslim membenci Barat, berbagai kebijakan Amerika Serikat dalam perang melawan terornya menimbulkan persepsi diberbagai kalangan Muslim bahwa Amerika Serikat/Barat memusuhi Islam dan negara-negara Muslim.
- Aksi-aksi terror yang dilakukan sekelompok pemuda Muslim radikal terhadap kepentingan Barat, seperti pemboman di Indonesia (Bali, Jakarta), Spanyol dan Inggris, sebagai balasan terhadap tindakan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Afghanistan dan Iraq semakin memperkuat persepsi bahwa Islam dan Muslim merupakan ancaman bagi keamanan dan kepentingan Barat. Tindakan beberapa pemuda Muslim radikal yang menjadikan rakyat sipil sebagai sasaran serangan terror melahirkan stigma bagi Islam dan masyarakat Muslim secara keseluruhan. Hal ini antara lain menyebabkan negara-negara Barat melakukan control dan pembatasan terhadap warga Muslim yang berada atau ingin memasuki wilayah mereka.
- Tindakan penistaan terhadap Islam, seperti karikatur Nabi Muhammad SAW di Denmark dan pernyataan Paus Benediktus tahun lalu yang mendiskreditkan Islam, memancing reaksi marah umat Muslim di berbagai negara.
- Hubungan yang semakin memburuk antara Amerika Serikat dan negara-negara Timur Tengan yang dituduhnya sebagai pendukung terorisme seperti Iran dan Syria. Krisis nuklir Iran semakin memperkeruh keadaan yang sudah tidak menentu.
Namun sesungguhnya situasi politik dan ekonomi global sekarang ini jauh lebih kompleks dari gambaran di atas. Meskipun dalam persepsi popular dewasa ini ada konflik peradaban antara Islam” disatu pihak dan Barat” dilain pihak seperti pernah disinyalir oleh Huntington, pada kenyataannya tidak ada satu kekuatan Islam yang bersatu, atau Blok Islam” melawan Blok Barat. Islam merupakan agama universal yang penganutnya tersebar di banyak negara, termasuk di negara-negara Barat sendiri, yang secara ideologis tidak serta merta bertentangan dengan nilai-nilai ataupun kepentingan Barat. Di negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslimpun, seperti Indonesia, banyak nilai-nilai yang tadinya diasosiasikan dengan Barat, seperti pendidikan moderen, system politik demokrasi, perlindungan terhadap hak asasi manusia dan kapitalisme ekonomi sudah diadopsi sebagai bagian dari nilai dan system nasional mereka.
Meskipun yang terlihat dipermukaan adalah konflik antara Islam garis keras dan Barat, khususnya Amerika Serikat yang memosisikan dirinya sebagai polisi dunia, banyak pihak yang menilai bahwa konflik yang sesungguhnya tejadi dalam komunitas Muslim sendiri. Sebagian pengamat barat melihat bahwa ada the struggle for the soul of Islam” antara kelompok Muslim moderat” dan fundamentalist”. Kaum fundamentalist”, diartikan sebagai pengikut Islam garis keras yang tidak toleran terhadap perbedaan dan membenarkan penggunaan kekerasan, tidak saja menyerang kepentingan Barat tetapi juga Muslim moderat yang mereka nilai terlalu dekat dengan Barat.
Situasi politik dan keamanan global seperti digambarkan di atas, menempatkan negara-negara Muslim moderat yang memiliki hubungan dekat dengan negara-negara Barat berada dalam posisi yang dilematis dan kadang-kadang terjepit. Di satu pihak, negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim menentang kebijakan unilateral Amerika Serikat dan sekutunya atas Afghanistan dan Iraq dan meminta agar pendekatan melawan terorisme tidak mengedepankan penggunaan militer tetapi berupaya menyelesaikan akar penyebab munculnya terorisme. Akar terorisme yang dimaksud antara lain adalah ketidakadilan ekonomi dan politik global yang disebabkan oleh dominasi Barat yang berlebihan, dan keberpihakan Barat, khususnya Amerika Serikat, terhadap Israel yang menduduki wilayah Palestina.
Di lain pihak sebagian besar negara-negara Muslim juga mengutuk tindakan-tindakan terorisme yang dilakukan segelintir kalangan Muslim yang dinilai bertentangan dengan ajaran Islam sendiri. Sikap pertama menyebabkan ketidakpuasan dikalangan pimpinan politik sebagian negara Barat yang menganggap anjuran untuk menyelesaikan akar penyebab terorisme sebagai pembenaran terhadap terorisme itu sendiri. Sikap kedua menimbulkan kritik dan penentangan dikalangan penganut Islam garis keras yang menuduh pemerintah yang bersangkutan sebagai antek-Barat/Amerika Serikat
Perkembangan Politik dan Ekonomi Global Pasca Perang Dingin
- Meskipun Amerika Serikat dewasa ini terfokus pada Perang Melawan Terorisme” dan terjebak dalam konflik berkepanjangan di Iraq, Politik dan Ekonomi global tidak sepenuhnya ditentukan oleh Washington, dan serangan atas WTC bukanlah penentu utama hubungan internasional.
- Pasca Perang Dingin hubungan internasional tidak lagi dibentuk oleh pertentangan ideology antar-negara atau antar Blok yang masing-masing terdiri dari beberapa negara. Dewasa ini tidak ada masalah ideology, politik atau keamanan yang menyebabkan munculnya konfrontasi atau konflik yang relative tetap dan terprediksi (stable and predictable conflict) antara kelompok-kelompok negara seperti dimasa Perang Dingin yang diwarnai konflik menyeluruh antara Blok Komunis/Timur dan Blok Kapitalis/Demokrasi Barat. Hubungan internasional sekarang lebih cair dan juga lebih tidak terprediksi.
- Perdebatan tentang perbedaan antara nilai-nilai Barat dan Timur, misalnya antara Western and Asian Values” yang sempat mewarnai decade akhir 1980an sampai pertengahan 1990an tidak lagi menonjol. Isu-isu seperti demokrasi, HAM, lingkungan hidup sudah mulai diterima sebagai bagian dari nilai-nilai universal meskipun masih banyak negara yang mengabaikannya. Banyak negara-negara eks-Komunis menerapkan system pemerintahan demokratis dan bergabung dengan musuh-musuh lamanya dalam Uni Eropa. Bagitu juga dikalangan negara-negara Muslim demokrasi mulai berkembang. Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar dan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.
- Tidak ada Clash of Civilisations” antara Islam” dan Barat” seperti disinyalir Huntington karena masyrakat Muslim sendiri sangat heterogen, begitu juga Barat”. Setiap negara, terlepas dari agama dan system politik yang dianutnya, dewasa ini mengembangkan hubungan politik, keamanan dan ekonomi dengan pihak luar sesuai dengan kepentingan nasional masing-masing, bukan berdasarkan kepentingan agama atau peradaban.
- Dalam bidang ekonomi ada beberapa fenomena menarik yang perlu dicermati:
- Globalisasi ekonomi yang a.l. ditandai oleh semakin menyatunya pasar uang dunia serta meningkatnya interdependensi bidang produksi dan pasar;
- Regionalisasi ekonomi, yaitu meningkatnya integrasi ekonomi di berbagai kawasan. Hal ini antara lain disebabkan oleh kebuntuan dalam perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO-World Trade Organisation) karena adanya perbedaan kepentingan mendasar antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang;
- Tiga kekuatan ekonomi utama ekonomi dunia adalah Amerika Serikat, Jepang dan Jerman. Pasar Amerika Serikat tetap merupakan yang terbesar dan tujuan ekspor hampir seluruh produsen dunia, dan perkembangan ekonomi Amerika Serikat berdampak langsung pada perekonomian global;
- Munculnya RRC dan India sebagai kekuatan ekonomi regional dan global baru disatu pihak turut memacu pertumbuhan ekonomi Asia dan dilain pihak semakin mempertajam kompetisi diantara negara-negara berkembang untuk meraih investasi dan pasar;
- Kebangkitan RRC sebagai kekuatan yang dianggap paling potensial menjadi pesaing utama Amerika Serikat, baik dalam bidang ekonomi maupun dalam bidang pertahanan. RRC memiliki senjata nuklir dan peningkatan anggaran militernya yang relative tinggi, yang dimungkinkan oleh pertumbuhan ekonominya yang fenomenal, telah menimbulkan kecemasan negara-negara lain, terutama Amerika Serikat dan Jepang;
- Meningkatnya aktifitas diplomasi dan ekonomi RRC di berbagai negara, khususnya di Asia Timur, dimana RRC mulai tampil sebagai pemimpin regional, termasuk diantara negara-negara yang masih menjadi sekutu Amerika Serikat RRC juga melebarkan sayapnya ke Afrika dan Amerika Latin, terutama dalam rangka mengamankan suplai energi dan bahan-bahan mentah lainnya;
- Pertumbuhan ekonomi RRC dan India yang tinggi meningkatkan permintaan atas energi, khususnya minyak dan gas bumi, dan turut mendorong krisis energi yang ditandai harga minyak yang melambung serta meningkatnya masalah emisi CO2 dan tantangan perubahan iklim global;
- Rusia kembali tampil sebagai kekuatan global, khususnya di Eropa, terutama karena Rusia kaya minyak dan gas bumi dan memiliki senjata nuklir;
- Isu energy security” dan kompetisi untuk mengamankan suplai energi akan semakin mendominasi interaksi internasional dimasa-masa yang akan datang.
- Isu Islam dan Barat” bukanlah hal yang menonjol dalam konstalasi ekonomi-politik yang berkembang sekarang ini. Kecuali di Timur Tengah yang memiliki dinamika tersendiri, di Asia Timur, Asia Selatan dan Asia Tengah dimana mayoritas masyarakat Muslim bermukim, kerjasama berjalan dengan relative baik dengan dan antar berbagai pihak. Di kawasan ini banyak terdapat kerjasama regional ataupun antar-regional yang melibatkan negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim dan non-Muslim, misalnya Amerika SerikatEAN, Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), Amerika SerikatEAN +3, East Asia Summit, SAARC (South Asia Association for Regional Cooperation), Amerika SerikatEM (Asia-Europe Meeting), Shanghai Regional Organization (sejak 2001 dan beranggotakan RRC, Rusia, Kazakhstan, Kyrgystan, Tajikistan dan Uzbekistan), dan lainnya.
Isu-isu Islam” dalam Politik-Keamanan Internasional
Meskipun secara sekilas ada permasalahan besar antara Islam” atau masyarakat Muslim secara keseluruhan dengan Dunia Barat dalam tataran internasional, pada kenyataannya seperti diuraikan secara singkat di atas konstalasi politik, keamanan dan ekonomi internasional jauh lebih kompleks dari gambaran hitam-putih mengenai Islam” dan Barat” yang selama ini beredar. Kita perlu mengisolasi and menganalisis isu-isu yang muncul secara lebih kritis agar dapat mengurai benang kusut yang cenderung memperkeruh hubungan Islam” dan Barat”.
Berikut adalah beberapa isu yang dewasa ini menjadi sumber konflik dan perbedaan kepentingan dalam hubungan antara negara-negara/Masyarakat Muslim dengan Barat”, khususnya dengan Amerika Serikat:
- Konflik Israel dan Palestina: negara-negara Barat lebih memihak Israel sementara masyarakat Muslim di berbagai negara mendukung rakyat Palestina. Pendudukan dan kekerasan yang dialami rakyat Palestina ditangan otoritas Israel, dan pembelaan Barat terhadap Israel, sebagai ungkapan rasa bersalah mereka atas tragedy holocaust selama Perang Dunia II, turut mendorong lahirnya gerakan radikal dan terorisme dikalangan komunitas Muslim yang menyerang kepentingan Barat. Penyelesaian akhir masalah Palestina dengan dibentuknya dua negara (Israel dan Palestina) yang berdaulat dan diakui internasional diperkirakan dapat mengurangi alasan munculnya gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam untuk melawan kepentingan Barat”. Perlu dicatat bahwa negara-negara Muslim sendiri tidak satu suara dalam menghadapi Israel-sebagian menolak berhubungan sementara sebagian lagi sudah menjalin hubungan diplomatic dengan Tel Aviv.
- Masalah Afghanistan. Dukungan Amerika Serikat terhadap gerakan Mujahiddin melawan pendudukan Uni Soviet dan kemudian kekurangpedulian Amerika Serikat dan negara-negara Barat atas perkembangan social-ekonomi-politik di Afghanistan pasca Perang Dingin turut memberi andil atas lahirnya rezim Islam radikal Taliban di negara tersebut. Konflik berkepanjangan di Afghanistan dan ketidakstabilan politik di Pakistan merupakan lahan bagi munculnya gerakan-gerakan radikal yang memakai nama Islam. Afghanistan dijadikan tempat latihan oleh banyak pelaku terorisme, termasuk yang bergerak di Asia Tenggara. Tindakan Amerika Serikat menyerang Afghanistan untuk menggulingkan rezim Taliban secara unilateral sebagai pembalasan atas serangan teroris 911, karena rezim Taliban dituduh melindungi Al Qaidah yang dipimpin Osama Bin Laden, dikecam banyak negara Muslim termasuk Indonesia. negara-negara Muslim menolak kebijakan unilateral dan doktrin preemptive strike” Amerika Serikat yang mengabaikan hukum internasional serta penyerangan atas suatu negara sebagai balasan atas tindakan beberapa actor non-negara. (negara-negara Barat lainnya tidak menentang tindakan Amerika Serikat di Afghanistan karena Taliban memang terbukti memiliki hubungan dengan Al Qaida).
- Masalah Iraq. Krisis terburuk dalam hubungan antara Amerika Serikat dan negara-negara Muslim terjadi setelah Washington menyerang dan menduduki Iraq serta menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein tanpa otoritas PBB pada awal 2003. Alasan bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal yang mengancam keamanan global atau Saddam turut mendukung Al Qaidah sama sekali tidak terbukti. Persepsi masyarakat Muslim dunia terhadap Amerika Serikat mencapai titik yang terendah dari masa-masa sebelumnya. Namun perlu dicatatat bahwa tindakan unilateral Amerika Serikat menyerang Iraq juga mendapat kecaman dari beberapa negara Barat yang merupakan sekutu Amerika Serikat di Eropa (misalnya Jerman dan Perancis) serta dari masyarakat Eropa pada umumnya. Para pemerintahan di Eropa yang mendukung kebijakan Washington kehilangan dukungan public (UK, Spanyol, Itali) sehingga masalah Iraq tidak dapat dilihat sebagai konflik Islam”- Barat”. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi kebijakan militer Amerika Serikat di Iraq (isu minyak, perseteruan Bush/Cheney dengan Saddam Hussein, kebijakan Neo-con yang ingin mengekspor demokrasi, pengaruh Israel, dan lainnya), namun isu Islam” tidak kelihatan terlalu menonjol.
- Masalah Migran Muslim di Eropa. Isu adanya perbedaan antara budaya Islam” dan Barat” yang kadang-kadang memicu ketegangan belakangan ini banyak terjadi di negara-negara Eropa Barat. Kehadiran migran Muslim dari Afrika Utara dan Timur Tengah dalam jumlah yang cukup besar dianggap sebagai ancaman (social-budaya, ekonomi) oleh beberapa kalangan, terutama kelompok nasionalis, sehingga mereka mendukung kebijakan yang diskriminatif terhadap para migran. Dilain pihak diskriminasi dan marjinalisasi yang dialami kelompok migran melahirkan sikap perlawanan dikalangan kaum mudanya, seperti huru-hara yang terjadi di Perancis beberapa waktu yang lalu.Alienasi yang mereka alami juga menjadikan sebagian pemudaa Muslim di Eropa dapat dipengaruhi gerakan Islam radikal internasional. Kebijakan luar negeri negara-negara pendukung utama Amerika Serikat, khususnya yang berkaitan dengan Iraq, turut memicu radikalisasi kalangan muda sebagian migran Muslim di Eropa. Serangan bom atas transportasi public di UK dan Spanyol yang menimbulkan banyak korban rakyat biasa dilakukan oleh pemuda-pemuda migran Muslim. Hal ini pada gilirannya semakin menimbulkan kecurigaan dan antipati masyarakat Barat terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam, baik kehidupan Muslim di Eropa maupun citra Islam secara keseluruhan, sehingga tercipta lingkaran setan saling curiga-mencurigai.
- Timur Tengah sebagai sumber utama minyak dunia. Timur Tengah memiliki posisi sangat strategis dalam hubungan Islam dan Barat bukan karena wilayah ini merupakan pusat Islam, tetapi karena negara-negara dikawasan ini merupakan produsen minyak bumi terbesar didunia. Ketergantungan negara-negara industri maju atas minyak dari Timur Tengah menjadikan wilayah ini ajang perebutan kekuasaan sejak minyak mulai ditemukan. Sebagai satu-satunya negara adidaya, Amerika Serikat merupakan actor eksternal Utama yang mempengaruhi dinamika politik di Timur Tengah.
- Dukungan Amerika Serikat terhadap pemerintahan Muslim otoriter. Meskipun Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada umumnya mendukung negara-negara Muslim moderat yang menerapkan sistem politik demokratis dan penghormatan terhadap HAM, termasuk persamaan kedudukan perempuan, serta mengecam negara-negara Muslim konservatif atau fundamentalis seperti Afghanistan dibawah Taliban, Arab Saudi merupakan pengecualian. Kerajaan Arab Saudi yang menganut aliran Wahhabi yang sangat konservatif, yang menafikan system politik demokrasi dan tidak membenarkan emansipasi perempuan, justru mendapat dukungan penuh dari Washington, Hal ini tidak lain karena penguasaan Arab Saudi atas cadangan minyak yang sangat besar dan kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang sangat pro-Amerika Serikat guna mendapakan jaminan keamanan dilingkungan regional yang tidak ramah. Arab Saudi mengizinkan Amerika Serikat membangun basis militer di Jazirah Arab sebagai proteksi atas kemungkinan agresi dari tetangga-tetangganya yang lebih besar setelah Iraq menyerang Kuwait pada awal tahun 1991. Anomali hubungan Amerika Serikat-Arab Saudi ini memiliki dampak yang luas, karena bukanlah suatu kebetulan bahwa sebagian besar pelaku penyerangan 911 dan pimpinan Al Qaidah berasal dari Saudi Arabia. negara-negara Timur Tengah yang non-demokratis namun kaya minyak dan menjalankan kebijakan luar negeri yang pro-Barat terhindar dari tekanan Barat untuk melakukan reformasi social-politik sehingga melahirkan gerakan perlawanan radikal bawah tanah. Hal serupa juga terjadi di Pakistan dimana Amerika Serikat mendukung pemerintan otoriter Presiden Musharraf yang meraih kekuassan melalui kudeta militer karena dinilai Washington sebagai sekutu utamanya dalam Perang melawan Terorisme”.
- Isu Nuklir Iran. Sebagian masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, melihat isu pengembangan senjata nuklir Iran yang dituduhkan oleh Amerika Serikat dan dibantah oleh Iran sebagai manifestasi dari konflik antara Barat” dan Islam”. Persepsi yang demikian adalah kurang tepat. Kekhawatiran atas proliferasi nuklir merupakan keprihatinan semua negara penandatangan NPT (Non-Proliferation Treaty), dan penolakan masyarakat internasional atas kemungkinan Iran membangun senjata nuklir bukanlah karena Iran negara Islam, melainkan karena Iran merupakan pihak dalam NPT. (India, Pakistan dan Israel sejak semula menolak menandatangani NPT). Namun pernyataan keras Amerika Serikat yang cenderung konfrontatif terhadap Iran sangat berbeda dengan sikap Amerika Serikat yang mendukung dialog dalam penyelesaian krisis nuklir Korea Utara. Hal ini antara lain karena permusuhan antara Teheran dan Washington sejak digulingkannya sekutu dekat Amerika Serikat, Shah Iran, oleh Revolusi Islam tahun 1979, kekhawatiran akan perubahan perimbangan kekuasaan di wilayah Timur Tengah yang merupakan sumber utama minyak, serta kekhawatiran akan keselamatan Israel. Perlu dicatat bahwa negara-negara di Timur Tengah dengan mayoritas penduduk Sunni (dan sebagian besar memiliki hubungan baik dengan Washington) juga sangat khawatir atas kemungkinan munculnya Iran yang Syiah sebagai kekuatan bersenjata nuklir. Sebaliknya dalam krisis nuklir Korea Utara, negara-negara tetangga seperti Korea Selatan dan RRC, turut mendorong terciptanya penyelesaian damai.
Isu agama yang bersifat transnasional/lintas negara dapat mempengaruhi hubungan antar-negara dan antar-masyarakat, baik ditingkat regional maupun global. Namun membicarakan Islam, Politik dan Ekonomi Global bukanlah hal yang mudah. Agar kita tidak terjebak pada simplifikasi permasalahan yang tidak jarang memicu emosi dan sentiment keagamaan yang mempertentangkan Islam” dan Barat” diperlukan pendekatan yang lebih kritis terhadap setiap permasalahan yang timbul. Pada kenyataannya sulit untuk membicarakan Islam” atau Barat” sebagai suatu kesatuan yang utuh dalam hubungan internasional karena kebijakan internasional dilakukan oleh negara sesuai dengan kepentingan nasional masing-masing. Persamaan agama, budaya, ras dan etnisitas tidak menjamin dua negara yang berbeda akan memiliki kepentingan nasional yang sama, seperti terlihat dari dinamika hubungan Indonesia dan Malaysia yang memiliki hubungan serumpun”. Penyederhanaan masalah internasional sebagai isu Islam” atau Ummat” dalam konteks perekonomian dan politik-keamanan global dewasa ini yang didominasi oleh kebijakan negara-bangsa merupakan suatu hal yang kurang tepat dan justru dapat menyesatkan.
Istilah negara Muslim” disini dipakai secara longgar untuk merujuk pada negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam meskipun negara yang bersangkutan bukan negara Islam” yang menganut Islam sebagai ideology negara.
Peneliti Senior Bidang Politik Internasional CIDES dan Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK)-LIPI.
Bookmarks (58) 0 Buka: 2825
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.2 |