Mengurangi subsidi atau menaikkan harga BBM berisiko politik tinggi apalagi menjelang pemilu dan pemilihan presiden. Setelah itu penyesuaian harga BBM dan tarif listrik tampaknya tidak terhindarkan siapa pun yang memenangi pemilu dan yang menjadi presiden.
Upaya menyubstitusikan minyak tanah dengan gas secara tergesa-gesa dan mengurangi pasokan premium dalam pelaksanaannya akan menambah komplikasi baru. Upaya ini dapat dilakukan dalam jangka menengah, tetapi tidak dalam jangka pendek.
Malah terbebani
Dalam jangka menengah posisi Indonesia sebagai produsen utama komoditas harus dikembangkan lagi. Semestinya pada saat harga komoditas tinggi, perekonomian Indonesia sangat diuntungkan, bukan malah terbebani. Tingginya harga komoditas ini masih akan berlangsung, paling tidak dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan. Ironisnya, pada saat harga komoditas tinggi lingkungan investasi untuk migas dan pertambangan adalah yang paling buruk selama ini di Indonesia.
Jika Indonesia dapat mengoptimalkan produksi komoditas, dengan keuntungan yang lebih besar, pemerintah dan dunia usaha dapat menyesuaikan lebih baik perkembangan eksternal tersebut lebih pada sisi yang menguntungkan, bukan pada sisi yang menambah beban. Tentu saja yang terpenting adalah pengembangan investasi langsung untuk mengimbangi investasi portofolio.
Umar Juoro Ketua Center for Information and Development Studies (CIDES), Makalah pernah diterbitkan Harian Umum Kompas.