Kenaikan Harga Minyak Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini
Economics - Ekonomi Sebelumnya
Sabtu, 10 November 2007
(Lutfi) Kenaikan Harga Minyak: Permasalahan dan Solusi bagi Indonesia. Harga Minyak Senin Pagi (29 Oktober 2007) mencapai 92 dollar Amerika per barrel. Beberapa hal yang menyebabkan kenaikan harga minyak adalah kebutuhan yang meningkat dari negara – negara ­emerging market seperti China dan India, ketegangan di Timur Tengah antara Kurdi Irak dengan Turki dan Amerika – Iran, meningkatnya permintaan minyak musim dingin dibelahan bumi utara, dan menurunnya cadangan minyak di Amerika Serikat akibat badai Katrina.

Pada Akhir 2003, harga rata-rata minyak mentah standar di New York Merchantile Exchange (NYME) masih di bawah 25 dollar AS. Juni 2005 sudah di atas 60 dollar AS per barrel, Mei 2007 di atas 80 dollar AS per barrel hingga Akhir Oktober 2007. Harga minyak meningkat sekitar 75% selama satu tahun terakhir ini dan naik melebihi 300% dibandingkan dengan harga tahun 1990.

Karakteristik pasar minyak mentah dunia sekarang ini, menurut Energy Information Administration (EIA), ditandai oleh terus meningkatnya konsumsi (terutama dari China dan India), pertumbuhan pasokan non OPEC yang hanya moderat, terus menurunnya cadangan minyak di Amerika Serikat dan meningkatnya permintaan terhadap minyak produksi OPEC.

Prediksi jangka menengah EIA juga memprediksi pertumbuhan konsumsi minyak dunia 2,2% per tahun sementara pasokan dari non OPEC hanya meningkat 1% per tahun. Sementara OPEC akan dipaksa memompa produksi dari 31,3 juta barrel per hari (bph) menjadi 36,2 juta bph tahun 2012 sehingga berakibat kapasitas tersisa hanya 1,6% dari permintaan global dari sekarang 2,9%.

Untuk Indonesia imbasnya adalah apabila kenaikan harga minyak ini merupakan gejala permanen yaitu akan memicu kenaikan harga industri di dalam negeri sekitar 10% dengan perkiraan biaya belanja energi perusahaan sekitar 18% dari total belanja perusahaan. Sedangkan masyarakat sendiri tidak terkena dampak langsung dari kenaikan BBM dengan asumsi bila janji Pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM sampai Pemilu 2009 dipenuhi. Pemerintah sendiri mematok harga minyak 60 dollar AS per barrel, sebenarnya ini dapat meningkat penerimaan negara dengan asumsi produksi minyak sebesar 1 juta bph (asumsi APBN 1,034 juta bph) sementara  kenyataan di lapangan produksi hanya mencapai sekitar 935.000 bph. Permasalahan lanjutan adalah timbulnya peluang penyelundupan karena disparitas harga domestik dan internasional.

Alternatif Jangka Pendek

Tekanan yang diakibatkan oleh kenaikan harga minyak untuk Indonesia dapat diatasi, secara sementara, dengan melakukan efisiensi penggunaan energi dan audit ulang secara menyeluruh terhadap biaya dan jumlah produksi minyak di Indonesia. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melakukan efisiensi energi seperti sosialisasi penghematan energi harus terus dilakukan oleh berbagai pihak, Pemerintah, dalam hal ini Departemen Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) dan Departemen Perindustrian, harus bekerjasama dengan perusahaan dan BUMN terkait untuk melakukan efisiensi energi seperti peremajaan mesin-mesin tua yang boros energi. Kemudian langkah selanjutnya adalah audit menyeluruh terhadap biaya produksi minyak atau yang disebut cost recovery yang menurut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) berpotensi merugikan negara di BP Migas sebesar 2,5 miliar dollar AS. Jumlah produksi minyak Indonesia juga dapat ditingkatkan dengan mewajibkan perusahaan minyak harus menyetorkan semua hasilnya ke Negara dan penggunaan minyak untuk operasional perusahaan dapat dibeli dengan harga pasar.

Alternatif lainnya ialah konversi minyak tanah ke gas. Cadangan gas Indonesia sekitar 185,8 TSCF dan produksi per tahun 2,95 TSCF sehingga dapat diperkirakan akan habis 62 tahun lagi sementara minyak bumi sekitar 9,1 miliar barrel (termasuk blok cepu) dengan produksi 387 juta barrel per tahun dan akan habis 23 tahun lagi. Dengan semakin melambungnya harga minyak maka penggunaan gas sebagai alternatif kebutuhan energi bagi masyarakat menjadi sangat menguntungkan baik bagi masyarakat maupun bagi pemerintah. Program konversi minyak tanah ke gas ini harus dipercepat dan diperluas pemakaiannya.

Alternatif jangka pendek berikutnya ialah menggunakan batubara untuk listrik. Cadangan batubara sekitar 19,3 miliar ton dengan produksi tahunan sebesar 132 juta ton sehingga dapat bertahan selama 146 tahun lagi. Penggunaan batubara ini sebenarnya dapat digunakan secara luas oleh industri lainnya tetapi akan menjadi masalah bagi lingkungan dan produk yang dihasilkan dapat diboikot oleh negara-negara maju. Oleh karena itu dalam jangka pendek ini, langkah yang terbaik adalah penggunaan batubara untuk energi listrik terutama oleh PLN untuk menyediakan energi yang murah bagi seluruh masyarakat dan industri.

Dalam jangka menengah peningkatan produksi minyak masih dapat dilakukan. Cadangan geologi Indonesia untuk migas masih ada sekitar 22 cekungan hidrokarbon yang belum dieksplorasi. Investasi disektor migas masuk, pada tahun 2006 jumlah investasi yang masuk, sebagian besar disektor hulu, sebesar 18 triliun rupiah dan tahun 2007 ada sekitar 44 komitmen investasi. Pada hari ini (Selasa, 30 Oktober 2007) Pemerintah, melalui Departemen ESDM, menawarkan 26 blok migas ke kalangan investor. Dari 26 blok, 5 blok merupakan lading minyak yang pernah ditawarkan dan 21 blok baru. Hanya saja pengembangan lapangan hingga bisa produksi membutuhkan waktu 5 – 7 tahun.

Restrukturisasi Penggunaan Energi Nasional

Pola struktur konsumsi pemanfaatan energi nasional dikalangan masyarakat, industri, transportasi dan listrik harus diubah. Di sektor transportasi, misalnya, kebutuhan energi sekitar 99,9% masih menggunakan bahan bakar minyak, baik premium maupun solar. Hanya 0,1% yang menggunakan biofuel dan bahan bakar gas. Di sektor rumah tangga dan komersial masih 53,1% yang menggunakan bahan baker minyak, 36% menggunakan listrik dan baru 10,6% yang menggunakan elpiji. Tahun 2006 di sektor industri ada sekitar 43,8% yang menggunakan bahan bakar minyak. Sekitar 22,5% dan 19,6% menggunakan batubara dan gas. Untuk pembangkit listrik sekitar 23,7% masih menggunakan bahan bakar minyak meski tidak ekonomis.

Melihat itu semua Pemerintah harus berani melakukan perubahan pola konsumsi energi agar tidak terlalu tergantung kepada bahan bakar minyak. Jika dikembangkan energi alternative semua pihak baik masyarakat maupun negara sangat diuntungkan. Banyak pilihan dalam penerapan energi alternatif ini sesuai dengan kondisi setiap wilayah. Potensi panas bumi Indonesia tersebar di 151 lokasi sebesar 27.000 MW (atau sekitar 40% dari potensi panas bumi dunia) dan potensi terbesarnya ada di Pulau Sumatera sebesar 5.433 MW dan Indonesia baru mengembangkan hanya sebesar 4% saja. Untuk wilayah Kalimantan Barat sangat sesuai jika dikembangkan pembangkit listrik tenaga air. Sebesar 6% potensi pembangkit listrik tenaga air Indonesia sebesar 75.760 MW berada di Kalimantan Barat. Begitu pula didaerah lain.

Pemerintah juga perlu melakukan massalisasi penggunaan energi selain berbasiskan BBM seperti panas bumi, batu bara, gas, hibrida, LPG, biofuel dan lain-lain. Untuk biofuel penggunaannya yang berbasiskan bahan pangan seperti jagung, kelapa sawit, singkong dll menyebabkan kenaikan harga bahan pangan terutama di pasar domestik. Indonesia harus mengembangkan energi biofuel dengan berbasiskan penggunaan bahan baku non pangan seperti jarak dan harus diciptakan sebuah mekanisme pembelian langsung oleh pemerintah dengan harga pasar karena petani akan ragu menanam jarak tanpa ada jaminan dari Pemerintah.
 
Tantangan kenaikan harga minyak dunia ini memang masih merupakan hal yang debatable apakah sifatnya permanen atau sementara, yang pasti adalah kenaikan harga ini menimbulkan kepanikan Pemerintah dan sektor industri akan terjadinya perlambatan perekonomian dunia. Untuk Indonesia, bila asumsi tidak terjadi kenaikan BBM hingga 2009, maka efek langsungnya adalah pada harga BBM untuk sektor industri yang akan meningkatkan harga jual produk meningkat menjadi 10%. Indonesia sendiri perlu mengantisipasi, walau sebenarnya sudah telat, permasalahan ini dengan alternatif jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek, efisiensi penggunaan energi dan audit ulang terhadap BP Migas secara keseluruhan akan sangat membantu fiskal kita. Pencarian kembali lading-ladang baru atau penggunaan teknologi yang lebih baru untuk sumur tua yang masih produktif tetap harus dilakukan. Tetapi dalam jangka panjang, Pemerintah harus melakukan terobosan melakukan sebuah rekayasa sosial untuk mengubah pola konsumsi masyarakat terhadap energi agar tercapai keseimbangan dalam penggunaan energi alternatif yang sangat melimpah dengan BBM atau energi fosil lainnya.

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net


Bookmarks (97) 0 Buka: 13769

Komentar (1)
RSS comments
1. 28-05-2008 11:39
 
obat cytotec
brp harga pasaran cytotec d apotik-apotik apakah d smua apotik ada
IP: 61.247.18.142
Tamu
 
Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.2

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >